Resource Therapy berakar pada psikoanalisa, teori dan teknik psikoterapi yang dikembangkan oleh Sigmund Freud (1856 – 1939), yang berfokus mengeksplorasi keterhubungan dari pemrosesan pengalaman masa lalu di pikiran bawah sadar terhadap respon pikiran, perasaan dan perilaku seseorang di masa kini.
Dalam teori psikoanalisa, Freud memetakan struktur dari pikiran sadar dan pikiran bawah sadar lebih jauh ke dalam tiga bagian, yaitu: “ego”, “id” dan “superego”.
Model psikoanalisa Freud menjelaskan bahwa respon pikiran, perasaan dan perilaku yang seseorang alami di masa kini adalah hasil dari interaksi ketiga bagian, id, ego dan superego. Adalah Paul Federn (1871 – 1950), seorang psikolog Austria, yang dalam tinjauannya memiliki pandangan berbeda.
Dalam pandangan Federn, struktur psikis bukan hanya terbagi menjadi tiga bagian besar seperti yang Freud rumuskan, melainkan terbagi menjadi bagian-bagian (Parts) yang lebih spesifik, yang dinampakkan sebagai kondisi (state) diri kita. Menurut Federn, dalam keseharian yang kita jalani, kita terus mengalami perpindahan kondisi/state dari waktu ke waktu ketika merespon situasi di luar diri kita dimana di setiap kondisi itu terdapat keberadaan “ego” yang aktif, yang mewakili kepentingan kita dalam merespon situasi yang kita alami tersebut.
Federn mulai merumuskan konsep tentang “Bagian-bagian” (Parts) dalam diri, yang disebutnya sebagai “Ego State”.
Konsep Ego State yang Federn rumuskan kemudian diteruskan ke muridnya yang berasal dari Itali, yaitu Edoardo Weiss (1889 – 1970).
Namun demikian, sampai sejauh itu, keberadaan Ego State sendiri masih lebih berupa konsep dan teori, belum mewujud menjadi teknik terapi tertentu, sampai kemudian Weiss meneruskan konsep ini pada John G. Watkins (1917 – 2012), seorang psikolog Amerika.
John Watkins, bersama istrinya, Helen Watkins (1921 – 2022) mulai mengembangkan konsep Ego State yang mereka pelajari menjadi sebuah teknik terapi yang disebut Ego State Therapy.
Dalam Ego State Therapy, proses terapi mulai difokuskan untuk mengidentifikasi keberadaan Bagian (Parts) spesifik yang melatari permasalahan dalam diri seseorang. Prosesi terapi kemudian difasilitasi pada Parts yang “bermasalah” ini. Praktik dan penelitian pasangan Watkins memunculkan temuan bahwa ketika Parts yang sebelumya bermasalah terbebaskan dari masalahnya, ternyata gejala permasalahan yang seseorang alami pun turut mereda.
Lahirnya Ego State Therapy mulai menarik atensi beberapa kalangan yang tertarik untuk mengeksplorasi proses terapi pada Parts dalam diri manusia, salah satunya yaitu Gordon Emmerson (1950 – sekarang), psikolog asal Amerika yang bermukim di Australia.
Gordon Emmerson mempelajari Ego State Therapy dari Watkins, mempraktikkan, meneliti dan mengembangkannya lebih jauh. Dalam perjalannya, Emmerson merumuskan beberapa temuan yang menjadikan teori dan praktik Ego State Therapy yang dilakukannya berbeda dengan Ego State Therapy yang ada kala itu.
Pada awalnya, praktik Ego State Therapy mensyaratkan penggunaan kondisi hipnosis formal (formal hypnotic state) untuk bisa mengakses dan berkomunikasi dengan Parts. Disinilah Emmerson merumuskan teknik spesifik yang memungkinkan kita mengakses dan berkomunikasi dengan Parts tanpa menggunakan kondisi hipnosis secara formal, yang menjadikan praktik Ego State Therapy yang dikembangkannya bisa digunakan dalam sesi konseling-percakapan biasa.
Seiring semakin jauh bepraktik, Emmerson mulai merumuskan berbagai langkah praktik dan dasar teori yang menjadikan prosesi terapi yang dilakukannya berbeda dengan Ego State Therapy pada umumnya.
Pada tahun 2014, Emmerson secara resmi memformulasikan “Resource Therapy” sebagai modalitas terapi yang berdiri sendiri.
Lahirnya Resource Therapy bukanlah sekedar “pergantian nama” dari yang semula Ego State Therapy.
Kata “Resource” (sumber daya) yang menyertai Resource Therapy memiliki filosofi tersendiri, yang kemudian melandasi berbagai strategi penanganan dalam sesi terapi.
Sebagai teknik terapi yang berdiri mandiri, Resource Therapy merumuskan dasar teori tersendiri yang menjelaskan dinamika pembentukan kepribadian manusia, yang disebut “Resource Personality Theory“, juga memiliki perangkat diagnosis tersendiri terhadap permasalahan yang seseorang alami, yang disebut “Resource State Diagnosis“.
Berdasarkan teori kepribadian dan perangkat diagnosis tersebut, Resource Therapy merumuskan strategi penanganan yang terangkum dalam empat langkah “Resource Therapy Process” dan lima belas tindakan penanganan yang disebut “Resource Therapy Action“.