Lahirnya Resource Therapy (RT) bukan sebatas mewakili pergantian nama dari Ego State Therapy (EST), Parts-based intervention yang sebelumnya Dr. Emmerson praktikkan, melainkan lahirnya sebuah teknik terapi baru dengan cara pandang tersendiri.
Mengingat masih ada yang sering kali salah tafsir dan menganggap bahwa RT adalah EST yang hanya sekedar “ganti nama”, artikel ini didedikasikan untuk menjelaskan perbedaan di antara keduanya.
Penggunaan Hipnosis
Dalam EST penggunaan teknik Induksi hipnosis sebagai pengantar dari proses terapi untuk membawa klien ke kondisi hipnosis/trance formal menjadi bagian tidak terpisahkan, sehingga pembelajarnya perlu memiliki dasar keahlian hipnosis yang memadai.
RT tidak mensyaratkan proses Induksi hipnosis sebagai pengantar dari proses terapi. Dalam RT yang kita lakukan adalah menciptakan tingkat fokus yang cukup melalui teknik RT action 2 – Vivify Specific, yang bertujuan mengakses Parts agar Parts aktif di Conscious State (silakan temukan bahasan perihal level kesadaran Conscious State ini di artikel “Resource Personality Theory” dengan klik di sini), disambung dengan prinsip dan teknik khusus untuk menjaga komunikasi dengan Parts agar mereka aktif di Conscious State secara stabil.
Cara Pandang Atas Introject
Sebagaimana sudah kita bahas juga di artikel terdahulu (silakan temukan artikel seputar “Introject” dengan klik di sini), ketika sebuah Resource State terluka dan menjadi Vaded State, Resource State ini terluka atau trauma karena peristiwa tertentu di masa lalu yang disebabkan perlakuan atau kejadian tertentu, dimana trauma ini membekas dalam memori Vaded State sebagai SEM negatif yang lalu melekat bersamanya di Underlying State.
Bersama SEM negatif yang melekat pada Vaded State, selalu ada keberadaan Introject yang “menghantuinya”, ketika Vaded State aktif di Conscious State maka ia sedang “dihantui” kembali oleh Introject di ruang kesadaran dimana ia berada di Underlying State.
Baik dalam EST atau RT terdapat teknik yang ditujukan untuk mengungkap peristiwa yang membuat Ego States atau Resource State terluka dimana terungkapnya detail peristiwa ini menjadikan kita juga mengungkap bagaimana Introject menyebabkan Ego State atau Resource State terluka dan “menghantuinya” di Underlying State.
Disinilah terdapat perbedaan cara pandang terhadap Introject dalam EST dan RT.
EST memandang keberadaan Introject sebagai salah satu Ego State dalam diri klien yang menyebabkan Ego State lainnya terluka, yang menandakan cara pandang bahwa Introject memiliki kuasa atas Ego State. Sementara RT memandang Introject hanya sebagai fragmen-memori yang bukan merupakan bagian dari diri kita dan tidak memiliki kuasa atas diri kita. Dalam RT Introject dikatakan memiliki pengaruh atas Vaded State adalah karena ketidaktahuan Vaded State bahwa seharusnya tidak demikian adanya. Perbedaan atas cara pandang ini yang menghasilkan perbedaan besar dalam proses penanganan di kedua hal ini kelak.
Dalam EST keberadaan Introject “dikalahkan” dengan “dilawan” agar tidak lagi mengganggu Ego State, yang menjadikan Terapis mengarahkan Ego State untuk melawan Introject. Proses ini bahkan ada kalanya dilakukan secara cukup “destruktif” dimana Terapis memprovokasi Ego State untuk menghancurkan Introject dengan berbagai macam cara, sampai ke yang terkesan kejam sekali pun.
Sementara itu karena RT meyakini bahwa Introject hanyalah fragmen memori yang seharusnya tidak memiliki pengaruh atas diri kita, melawan dan menunjukkan ekspresi destruktif pada Introject berarti meyakini bahwa mereka benar-benar memiliki kekuatan atas diri kita, padahal mereka hanyalah fragmen-memori yang sebetulnya tidak memiliki kekuatan atas diri kita, keyakinan bahwa mereka memiliki kuasa atas diri kitalah yang menjadikan Resoure State ini merasa tidak berdaya dan menjadi Vaded State.
Teknik terapi dalam RT didesain bukan untuk melawan Introject, tapi memfokuskan intervensinya untuk membangun kesadaran Vaded State bahwa Introjet adalah keberadaan yang tidak nyata dan bukanlah sebuah keberadaan yang harusnya ditakuti, melainkan hanya sebuah fragmen-memori yang tidak memiliki kuasa apa pun atas dirinya, betapa selama ini Introject memiliki pengaruh atas Vaded State adalah karena Vaded State tidak mengetahui hal itu dan membiarkan Introject mempengaruhinya secara negatif, dan betapa Vaded State sebenarnya bisa mengendalikan balik Introject serta memutuskan secara penuh bagaimana ia akan membiarkan Introject mempengaruhinya karena itu adalah ruang kesadarannya sendiri.
Ketika Vaded State menyadari hal ini maka ia pun mendapatkan kembali kendalinya yang selama ini hilang dan keluar dari mode Vaded-nya, kembali ke kondisi normalnya.
Resource State tidak bisa “diusir” atau dihilangkan karena mereka adalah bagian dari kepribadian kita, sementara itu Introject bisa “diusir” atau dihilangkan dari Underlying State karena mereka bukan merupakan bagian dari kepribadian kita, hanya sekedar fragmen memori yang tercipta dari pengalaman kita.
Nantinya terdapat teknik khusus RT Action 6 – Removal untuk memberi Vaded State pilihan, apakah ia memutuskan mengusir atau menghilangkan keberadaan Introject ini dari ruang kesadarannya, ataukah membiarkannya tetap ada di ruang kesadarannya, pilihan yang diambil oleh Vaded State akan semakin menyadarkan dirinya bahwa ia punya kekuatan untuk memilih dan memutuskan, kendali sesungguhnya ada padanya, sehingga energinya semakin menguat dan memudahkannya kembali ke mode normalnya.
Kriteria Diagnosis dan Aksi Penanganan
RT mengelompokkan jenis-jenis permasalahan pokok yang dialami Resource State menjadi 8 jenis Resource State Pathology beserta 15 aksi penanganan spesifik untuk setiap kondisi patologi yang Resource State alami untuk mengembalikan mereka ke kondisi normalnya. Hal ini membuat proses penanganan dalam RT bersifat sistematis dan prosedural. EST sendiri tidak secara resmi mengelompokkan diagnosis permasalahan yang dialami Ego States dan tidak secara resmi memformulasikan aksi penanganan spesifik untuk setiap diagnosis permasalahan yang ada.
Asal Pembentukan Personality-Parts
RT memandang Resource State sebagai Personality-Parts yang dalam tumbuh-kembangnya mengembangkan keahlian (coping skill) dan fungsi spesifik, sehingga semua Personality-Parts dalam diri adalah sumber daya (resource) yang memiliki manfaat bagi kita, sementara EST dari Watkins memandang Ego States sebagai Personality–Parts yang terbentuk karena Ego States ini kelak terpisah (split-off) dari kepribadian inti (core personality) akibat trauma (Watkins & Watkins dalam Emmerson, 2015).
Penjelasan ini bukan dimaksudkan untuk mengatakan bahwa RT adalah lebih baik dari EST, melainkan menegaskan apa yang menjadi pembeda dari RT dengan EST, karena sering kali beberapa orang masih menganggap keduanya adalah teknik yang sama dan hanya dikemas dengan nama yang berbeda. Meski pun keempat bahasan di atas tadi dituliskan sebagai hal yang membedakan RT dengan EST, sebenarnya ia bukan sebatas pembeda, melainkan penegas akan kunci-kunci penting yang harus kita pahami dalam mempraktikkan RT .

