Sebagaimana dibahas di berbagai artikel sebelumnya, tujuan pokok Resource Therapy (RT) adalah mengembalikan Resource State yang mengalami kondisi Resource State Pathology ke kondisi normalnya, yaitu kembali menjadi Normal State.
Hal ini karena di balik permasalahan yang seseorang alami, akan ada Resource State Pathology (temukan bahasan seputar “Resource State Pathology” ini dengan klik di sini) yang melatari keberadaan permasalahan itu, ketika Resource State pathology itu sudah kembali ke kondisi normalnya maka permasalahan yang disebabkanya akan turut teredakan.
Dengan kata lain, Resource State Pathology menunjukkan kondisi “tidak normal”nya Resource State. Jika demikian adanya, bukankah kita perlu memahami lebih jauh terlebih dulu klasifikasi “ketidaknormalan” ini agar kita bisa memfasilitasi desain penanganan terbaik yang sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan setiap Resource state Pathology agar mereka bisa kembali ke kondisi normalnya?
Bukan tanpa alasan hal ini mendapatkan porsi khusus di bab kali ini. Sebagaimana sudah kita bahas di Bab 7 sebelumnya, tahapan Classify yang menjadi tahapan kedua dalam RT Process adalah tahapan yang juga mewakili tahapan RT Action kesatu, yaitu “Diagnosis”.
Proses diagnosis adalah tahapan yang akan menentukan jalannya proses terapi dalam RT, karena berdasarkan temuan dalam diagnosis inilah jalannya desain penanganan—yang dalam RT disebut sebagai RT Actions—baru bisa diketahui dan diformulasikan.
Proses diagnosis sendiri oleh American Psychological Association (APA) diartikan sebagai satu proses mengidentifikasi dan menentukan sumber dari sebuah gangguan atau permasalahan berdasarkan gejala masalah yang ditimbulkannya melalui proses pengujian, atau pengamatan atas gejala-gejala yang ditampakkannya (APA, tanpa tahun).
Namun demikian, proses diagnosis dalam RT bukan dimaksudkan untuk mendiagnosis kondisi kejiwaan seseorang sebagaimana dilakukan dalam diagnosis psikologi klinis, melainkan mendiagnosis permasalahan yang dialami oleh Resource State (Resource State Pathology) yang kemudian mewujud menjadi masalah emosi, perilaku atau psikosomatis dalam diri seseorang di Conscious State.
Landasan dari diagnosis dalam RT adalah sebagaimana sudah dijelaskan di bab sebelumnya, yaitu bahwa setiap Resource State Pathology selalu memiliki ciri spesifik yang kelak termanifestasikan menjadi gejala (simtom) permasalahan spesifik, sedemikian spesifiknya manifestasi dari Resource State Pathology ini menjadi gejala permasalahan sehingga ketika spesifikasi masalah klien di masa kini sudah bisa terdefinisikan dengan jelas maka saat itu juga Resource State Pathology sudah bisa diidentifikasi.
Diagnosis Atas Resource State Pathology
Bahasan mendasar atas proses diagnosis ini sudah kita bahas sekilas di artikel sebelumnya seputar “Resource Therapy Process” (silakan temukan tulisannya dengan klik di sini) dan “Resource State Diagnosis” (silakan temukan tulisannya dengan klik di sini) ketika kita melakukan Classifying. Ketika kita melakukan pengumpulan informasi dan mulai bisa mengenali gejala permasalahan yang klien alami untuk kelak mengklasifikasikannya ke dalam kategori yang digunakan dalam RT maka saat itu Classifying yang juga mewakili proses diagnosis sudah/sedang dilakukan.
Adanya Resource State Pathology akan menyebabkan permasalahan dalam diri seseorang di Conscious State-nya. Artinya, dengan mengenali ciri masalah spesifik yang klien alami di Conscious State, kita sudah bisa mengetahui apa Resource State Pathology yang terjadi dalam dirinya.
Meski hendaknya tidak menjadi sebuah generalisasi, pengalaman Dr. Emmerson dalam meneliti dan mengembangan RT juga melahirkan sebuah klasifikasi tersendiri atas berbagai jenis permasalahan spesifik yang banyak dialami masyarakat dengan Resource State Pathology dalam diri mereka, termasuk bagaimana Resource State Pathology termanifestasi menjadi berbagai gejala permasalahan yang diklasifikasikan dalam Diagnostic & Statisic Manual of Mental Disorder (DSM) yang digunakan di kalangan psikologi.
Dikatakan sebagai “patologi umum” adalah karena sekali lagi hal itu merupakan temuan yang umum ditemui dalam ragam sesi RT. Namun demikian tetap saja yang hendaknya kita perhitungkan adalah temuan lanjutan ketika kita mendalami lebih jauh spesifikasi permasalahan yang seseorang alami.
Sebagai sebuah “temuan umum”, yang bisa kita lakukan adalah menjadikannya referensi, tapi bukan memposisikannya sebagai dasar pembuatan keputusan final.
Bisa saja apa yang semula di temuan umum di atas dikategorikan sebagai Vaded with Fear ternyata merupakan Vaded with Rejection, atau bisa juga apa yang semula di temuan umum di atas dikategorikan sebagai Conflicted State ternyata merupakan Retro State.
Ilustrasi Supir Bus Dalam Resource State Pathology
Ada begitu banyak bahasan yang sudah kita kupas sejauh ini, yang kita perlu waspadai adalah jangan sampai semua bahasan ini membuat kita malah jadi bingung bagaimana merangkainya sebagai satu kesatuan pembelajaran yang lebih utuh.
Disinilah keberadaan dari “ilustrasi” memegang peranan penting untuk membantu menggabungkan semua konsep pembelajaran yang sudah kita pelajari ke dalam satu kesatuan yang utuh, dimana ilustrasi yang saya kerap gunakan untuk menggambarkan berbagai hal yang sudah kita pelajari sejauh ini adalah ilustrasi “supir bus”.
Bayangkan sebuah bus dengan banyak kursi di dalamnya dimana di setiap kursi itu ada penumpang yang duduk di kursinya masing-masing. Namun demikian setiap penumpang yang duduk dalam bus itu ternyata juga adalah para supir yang mengemudikan bus itu bergantian, sesuai dengan spesialisasinya masing-masing.
Ketika bus memasuki medan tanjakan maka supir spesialis tanjakan yang tadinya menjadi penumpang kali ini maju ke depan menjadi supir yang mengemudikan bus agar jalannya bus selalu aman dan efektif. Begitu juga ketika bus memasuki medan berkelok-kelok, maka supir spesialis medan berkelok-keloklah yang maju ke ke depan menjadi supir menggantikan supir sebelumnya.
Sampai sejauh ini hendaknya kita pahami dua hal penting dalam ilustrasi ini:
- Meski pun semua penumpang dalam bus itu bisa menjadi supir dan mengemudikan bus tetap saja hanya ada satu kemudi, yang juga menandakan bahwa hanya ada satu supir yang bisa mengemudikan bus itu dalam satu waktu.
- Kunci dari aman dan lancarnya perjalanan bus adalah ketika supir yang mengemudi adalah yang spesialisasi mengemudinya sesuai dengan medan jalanan yang ditempuh; jika medan jalan adalah medan tanjakan maka hendaknya supir spesialis medan tanjakan itu yang mengemudikan bus; begitu juga jika medan jalan adalah medan turunan atau berkelok, hendaknya supir yang mengemudi adalah supir yang spesialisasinya sesuai dengan medan tersebut.
Dalam ilustrasi ini, bus adalah perlambang diri kita dan para supir adalah Resource State dalam diri kita, sementara itu bangku pengemudi adalah Conscious State. Hal ini menandakan bahwa kualitas dari respon kita dalam menjalani kehidupan, atau “merespon medan jalanan” dalam ilustrasi di atas akan sangat ditentukan oleh supir yang duduk di bangku pengemudi, atau Resource State yang aktif di Conscious State.
Ketika supir yang mengemudikan bus (Resource State yang aktif di Conscious State) adalah supir yang tepat spesialisasinya (Resource State yang tepat fungsinya) dan berada di kondisi yang sehat—bebas dari luka atau trauma—maka bus akan berjalan baik adanya, hal inilah yang sudah kia bahas sebelumnya sebagai Normal State.
Ada kalanya supir yang mengemudi bukanlah supir yang tepat. Misalnya saja medan jalan yang dilewati adalah medan tanjakan namun supir yang mengemudi justru adalah supir spesialis medan turunan. Meski supir ini tidak membawa luka atau trauma tetap saja medan ini bukan medan yang jadi spesialisasinya. Ia bisa mengemudikan bus tapi ia tidak akan merasa nyaman karenanya, ada rasa salah tingkah yang menyertai caranya mengemudi. Ilustrasi ini melambangkan Resource State Pathology jenis Dissonant State, yaitu ketika Resource State yang aktif di Conscious State bukanlah Resource State yang sesuai dengan waktu dan tempatnya, meski ia tidak membawa luka atau trauma tetap saja ia tidak memiliki kemampuan merespon situasi sebagaimana seharusnya karena bukan itu yang menjadi fungsinya dalam diri kita.
Berikutnya, ingat bahwa hanya ada satu kemudi, maka hanya ada satu supir yang bisa mengemudikan bus. Namun ada kalanya justru yang terjadi adalah ada dua supir yang ingin berebut mengemudikan bus dalam satu waktu. Satu supir memegang kendali kemudi tapi ada satu supir lain yang terus merongronginya, ikut memegangi kemudi dan membuat supir yang sedang mengemudi jadi kesal sendiri karenanya. Ilustrasi ini melambangkan Resource State Pathology jenis Conflicted State, yaitu ketika ada dua Resource State yang tidak saling menghargai satu sama lain, keduanya ingin muncul dalam satu waktu. Resource State yang aktif di Conscious State dirongrongi oleh Resource State lain yang juga ingin aktif menjalankan tugasnya.
Kali ini mari kembangkan ilustrasi tadi lebih jauh. Sudah kita bisa bayangkan bahwa ada berbagai supir yang silih-berganti mengemudi di dalam bus itu. Namun sedari tadi yang kita bicarakan adalah para supir yang duduk di barisan-barisan depan sampai tengah, para supir yang saling mengenal dan tahu satu sama lain, yang melambangkan para Resource State yang ada di Surface State.
Yang kita perlu bayangkan juga adalah bahwa dalam bus itu ada juga para supir lain yang duduk di deretan belakang yang tersembunyi yang keberadaannya tidak diketahui para supir di deretan depan dan pertengahan. Deretan belakang yang tersembunyi ini adalah yang kita sudah bahas sebagai Underlying State. Begitu juga para supir yang berada di deretan ini melambangkan Resource State yang berdiam di Underlying State. Supir di deretan belakang ini memiliki kondisinya masing-masing, ada yang sehat dan fungsional dan ada juga yang membawa luka atau trauma, yang kita sebut sebagai Vaded State.
Ada kalanya supir yang sehat dan fungsional dari deretan belakang (Resource state dari Underlying State) ini mengemudikan bus, yaitu ketika ada medan jalan yang secara naluriah memancingnya untuk maju dan mengemudi. Ketika ia aktif mengemudi supir lain di deretan depan dan pertengahan tidak merasa terganggu tapi mereka juga tidak mengenali keberadaannya, sehingga yang sering terjadi adalah ada rasa “heran” karena untuk sesaat kita tidak berperilaku seperti biasanya, karena kita sendiri tidak ingat akan keberadaan Resource State itu.
Tapi bisa juga ketika supir itu maju mengemudi ia sempat berbagi cerita dengan supir lain meski hanya sekilas. Ketika hal ini terjadi ada kalanya kita teringat pada kejadian masa lalu dimana kita pernah melakukan hal sejenis. Hal ini menandakan kemunculan Resource State dari Underlying State ini disertai dengan adanya memori yang turut dibagikannya pada Resource State lain yang ada di Surface State, sehingga ketika ia sudah kembali ke Underlying State pun memori itu sempat membekas di Resource State lain di Surface State dan bisa turut diceritakan.
Tapi bisa juga yang terjadi adalah ada supir di deretan belakang ini yang pernah mengalami kecelakaan di masa lalu di medan jalanan tertentu, sehingga ia membawa luka dan trauma. Ketika bus melalui medan jalan yang serupa dengan medan jalan yang dirasanya pernah melukainya maka ia pun segera maju ke bangku kemudi, mengambil alih kemudi dan dengan segala daya upaya ingin menghindari medan jalan yang dianggapnya membawa bahaya, maka bus pun jadi tergoncang oleh tindakannya. Baru ketika medan jalanan itu sudah berlalu ia pun kembali ke deretan belakang dan kembali bersembunyi.
Sementara itu para supir di deretan depan dan pertengahan jadi keheranan sendiri karena mereka tidak mengenali kemunculan supir dari deretan belakang itu, mereka juga tidak tahu kenapa tadi bus jadi goncang karena tindakannya. Ilustrasi ini melambangkan aktifnya Vaded State di Conscious State, ada Resource State yang membawa luka atau trauma yang aktif karena merasa ada sesuatu di luar diri kita yang dirasa serupa dengan yang pernah melukainya di masa lalu sehingga ia pun melakukan segala daya upaya untuk menghindari hal itu, yang muncul dalam bentuk gejolak reaksi negatif. Baru ketika hal itu sudah berlalu ia kembali ke Underlying State dan reaksi negatif itu pun kembali teredakan, dengan menyisakan rasa heran dari Resource State lain di Surface State yang tidak tahu kenapa reaksi itu muncul.
Tergantung dari jenis Vaded State yang muncul, bisa lain juga reaksi dari supir yang aktif mengemudikan bus ini. Hal ini akan kita bahas lebih jauh nanti ketika kita mulai mengenali jenis-jenis Vaded State dan langkah-langkah “menyembuhkan” luka mereka, sampai mereka bisa kembali ke kondisi normalnya.
Tapi kemunculan supir di deretan belakang yang membawa luka yang jadi ingin mengambil alih kemudi karena merasa ada yang bisa membahayakannya ini juga bisa mewujud menjadi skenario lain lagi. Yaitu ketika ia bersiap maju ada supir lain yang tahu bahwa kalau sampai supir yang terluka ini mengemudi pasti jalannya bus goncang tidak karuan, maka supir lain ini langsung mengambil alih kemudi dan mengalihkan bus dari medan jalan yang dirasa membahayakan si supir yang terluka tadi, sehingga supir yang terluka itu tidak perlu muncul karena medan jalan yang dilalui sudah bukan lagi yang membahayakan baginya. Sayangnya si supir lain ini malah mengemudikan bus dengan cara yang “ugal-ugalan”, yang membuat supir lain merasa tidak nyaman karena dianggapnya hal itu bertentengan dengan nuraninya.
Ilustrasi ini mewakili aktifnya Retro Avoiding State. Supir lain yang ingin menghindarkan supir yang terluka muncul agar jangan sampai ia menyebabkan goncangan pada bus adalah Retro Avoiding State ini, ia adalah Resource State yang ingin menghindarkan aktifnya Vaded State aktif di Conscious State karena akan ada ketidaknyamanan yang disebabkan olehnya, sehingga ia segera “melarikan” seseorang ke perilaku negatif yang dirasa bisa meredakan kemunculan Vaded State. Hal ini yang ketika dibiarkan maka akan menjadi kebiasaan. Karena kebiasaan itu dianggap sebagai perilaku negatif maka hal itu tidak disukai oleh Resource State lain yang tidak setuju dan mengeluhkan keberadaan Retro State ini.
Menggunakan Ilustrasi “Supir Bus” Untuk Memahami Resource State Pathology di Balik Keluhan Klien
Ketika seorang klien datang mengutarakan kebutuhan atau permintaan untuk menjalani penanganan, yang terjadi adalah ada Resource State yang sedang menjadi “Pelapor” dan melaporkan sebuah ketidaknyamanan yang disebabkan oleh Resource State Pathology dalam diri klien.
Kembali ke ilustrasi supir bus, hal ini melambangkan adanya supir bus yang merasa “risi” dengan jalannya bus yang dirasa tidak ideal dan ia sendiri tidak tahu bagaimana menyelesaikan situasi ini, supir yang peduli ini kemudian “melaporkan” situasi ini pada tim ahli agar mereka membantu penyelesaiannya. Tim ahli dalam ilustrasi itu adalah kita sebagai Resource Therapist yang sedang dimintai bantuan oleh Resource State “Pelapor” dalam diri klien. Begitu juga saat klien menceritakan permasalahannya di sesi yang dijalaninya, ada Resource State “Pelapor” yang sedang mengisahkan keberadaan Resource State lain yang dirasa mengganggu jalannya bus. Disinilah ketika mendengarkan cerita dari Resource State “Pelapor”, kita hendaknya sudah bisa memperkirakan apa Resource State Pathology yang sedang dimaksudkannya.

