Dinamika Bagian Kepribadian (Parts-Personality) Dalam Peran Ayah

Anda seorang ayah yang baru saja pulang bekerja. Setelah memarkirkan mobil Anda pun masuk ke dalam rumah dengan kondisi yang lelah setelah seharian kerja.

Langkah kaki Anda terhenti di ambang pintu ruang tengah. Jarum jam menunjukkan waktu relatif malam, namun suara tembakan video game masih menderu, menyambut kepulangan Anda yang lelah.

Detik itu juga, Bagian “Si Pendisiplin” di dalam diri Anda langsung terusik dan mengambil alih kemudi kesadaran. Bagian ini berpikir, “Situasi ini tidak bisa dibiarkan! Kalau diam saja, anak ini akan tumbuh jadi pemalas yang tidak tahu aturan. Rebut stiknya, beri dia pelajaran keras tentang tanggung jawab!”

Darah Anda mendesir naik, wajah menegang, dan kalimat teguran tajam sudah siap meluncur dari lidah Anda, tidak lain karena “Si Pendisiplin” sedang aktif di bangku kemudi (temukan bahasannya di ilustrasi bus dan supir yang dibahas di artikel “Resource State Diagnosis“, dengan klik di sini).

Namun, belum sempat satu kata pun terucap, “Si Pencari Damai”—Bagian dalam diri Anda yang sudah terkuras habis oleh tekanan pekerjaan seharian—menarik rem darurat sekuat tenaga. Bagian ini pun berbisik dengan nada memohon yang memilukan, “Jangan sekarang, tolong. Aku sudah terlalu lelah untuk berdebat. Kalau marah, dia akan menangis, ibunya akan terbangun, dan malam ini akan berakhir dengan drama panjang. Biarkan saja dia main sebentar lagi, asal rumah tetap tenang dan aku bisa merebahkan badan.”

Tubuh Anda seketika terpaku dalam kelumpuhan sesaat, terjepit di antara dorongan untuk bertindak tegas dan keinginan putus asa untuk beristirahat.

Di permukaan Anda hanya tampak berdiri mematung menatap punggung anak, tetapi di dalam batin Anda sedang terjadi “perang saudara”.

“Si Pendisiplin” menuduh Anda sebagai “ayah yang lemah dan tidak punya wibawa”, sementara “Si Pencari Damai” menuduh anda sebagai “ayah yang kejam dan tidak punya empati”.

Akhirnya, dengan bahu yang merosot kalah, Anda memilih untuk memalingkan wajah, pura-pura tidak melihat, dan berlalu menuju ruangan lainnya. Anda “membeli” ketenangan malam itu dengan harga mahal: rasa bersalah yang diam-diam menggerogoti pikirannya karena sadar Anda baru saja membiarkan prinsip Anda kalah oleh kelelahan.

Apa yang terjadi diatas adalah sebuah contoh konflik internal antara “Si Pendisiplin” vs “Si Pencari Damai”. Fenomena konflik dalam diri itu sebenarnya adalah manifestasi dari Bagian-bagian dalam diri (Parts) kita yang sedang memperjuangkan kepentingannya masing-masing.

 

 

Bagaimana Ressource Therapy (RT) Membantu Para Ayah?

Sebagai seorang konselor yang mayoritas menangani pria, suami, atau ayah , saya menghadapi banyak sekali pria/ayah yang bergumul dengan tantangan serupa, kebingungan dalam menghadapi konflik internal dalam dirinya. Padahal sudah barang tentu akan banyak sekali konflik internal sejenis yang dihadapinya sehari hari dalam menjalankan peran keayahannya (fatherhood).

Anda bisa melihat bahwa contoh kasus diatas adalah kasus yang dalam RT kita kenal sebagai Conflicted State (silakan temukan bahasannya di artikel yang membahas seputar “Resource State Pathology” dengan klik di sini), persoalan yang kerap terjadi, terutama saat Ayah menjalankan perannya di berbagai aspek keayahan.

Kejadian atau keadaan yang juga sering dialami ayah adalah: kesulitan dalam bersikap, menetapkan peran yang tepat ditempat dan waktu yang tepat. Coba kita tilik, Betapa sering seorang ayah yang karena kesibukkan kerjanya, masih membawa topi “manajer” atau “direktur” saat dia pulang kerumah dan berhadapan dengan anak dan istrinya, sehingga gaya komunikasi mereka pun menjadi tidak tepat dan sering menimbulkan masalah, fenomena yang kita kenal sebagai Dissonant State dalam Resource State Diagnosis.

Belum lagi jika ayah merupakan seorang pribadi yang pernah mengalami luka-luka penolakan, juga luka hasil dari physical ataupun verbal abuse, atau bahkan mungkin pengabaian dimasa kecilnya, sangat mungkin luka luka yang masuk dalam kategori Vaded State tersebut pun akan mengganggu keberfungsian sang ayah. Di titik yang lebih parah bisa saja ia pun melukai orang orang terdekatnya, atau yang kita kenal sebagai hurt people, hurt other people.

Satu fenomena yang juga tidak dapat kita kesampingkan, dari begitu banyak sesi konseling yang saya tangani, ada begitu banyak keberfungsian seorang ayah yang terdistorsi oleh perilaku yang kontraproduktif serta mengganggu keseharian ayah dalam menjalankan perannya. Entah itu perilaku yang melibatkan pengendalian emosi atau gaya komunikasi yang buruk, yang kemungkinan besar terbentuk dari pola “monkey see monkey do” yang dialami sang ayah dari figur ayah atau lingkungannya dahulu,  yang dalam RT termasuk ke dalam ketagori Retro Original, atau juga perilaku perilaku yang muncul sebagai defence mechanism ataupun coping mechanism yang ayah munculkan sebagai perlindungan terhadap luka dalam dirinya yang belum tersembuhkan, misalnya adiksi terhadap pornografi, seks bebas maupun substance, bahkan yang sekarang ini banyak saya temukan di ruang konseling adalah kombinasi judol (judi online) dan pinjol (pinjaman online). Ngomong-ngomong, perilaku “pelarian” ini juga yang dalam RT biasa kita kenal sebagai Retro Avoding.

Memahami konsep Parts atau Parts-personality theory melalui RT, sangat membantu saya sebagai konselor dalam menolong klien memahami persoalan yang dihadapinya. Pemahaman ini juga bisa membantu klien dalam mengambill keputusan untuk melakukan perubahan dalam berperilaku yang selama ini bisa jadi mengganggu dalam kehidupan interaksinya di dalam keluarga.

Penting untuk dipahami bahwa tidak ada satu pun dari Parts dalam diri kita yang berniat buruk. Kesemuanya memiliki niat baik: melindungi diri kita.

Kepribadian seorang ayah diibaratkan “orkestra”: ia memiliki banyak bagian yang harmonis untuk memainkan simfoni perannya yang utama. Namun, ketika ada satu senar putus atau nada yang sumbang, seluruh musik bisa menjadi disfungsi yang sumbang dan mengganggu.

 

 

Tidak ada Ayah yang Sempurna, Itu adalah Mitos ! Yang ada adalah ayah yang terus belajar.

Pesan saya untuk para ayah, kita semua adalah produk dari ayah kita dan kita semua pasti punya luka kita masing masing. Tugas kita adalah memutus rantai siklus agar supaya kita tidak menurunkan luka yang sama kepada generasi dibawah kita.

Di tangan seorang ayah yang berdaya (empowered father), rantai itu harus putus. Kita hendaknya memiliki otoritas untuk berkata: “Cukup sampai di sini. Kegagalan ayah saya tidak akan menjadi kegagalan saya, dan luka saya tidak akan menjadi luka anak saya.”

Untuk membantu para ayah, kita juga bisa menggunakan Resource State Mapping, salah satu teknik pemetaan Bagian dalam diri yang dipelajari di Resource Therapy Clinical Qualification, agar para ayah bisa mengenali Bagian-bagian dalam dirinya yang selama ini sudah berfungsi baik,mengenali Bagian-bagian yang belum berfungsi baik, dan bahkan menemukan Bagian-bagian kepribadian yang mungkin belum dipergunakan secara optimal dalam perannya.

Teruntuk Anda sekalian yang tertarik untuk melihat bagaimana kita bisa merestorasi peran ayah dengan menggunakan konsep Parts, saya mengajak teman teman untuk membaca buku saya “The Empowered Father – Merestorasi Peran Ayah dengan Konsep ‘Parts’; Memahami Diri Demi Kehadiran Yang Utuh Bagi Keluarga”. Untuk memesan buku setebal 236 halaman tersebut, teman teman bisa check di Instagram saya di @onomratus.

Sebagai seorang ayah yang terus belajar, pertanyaan yang diajarkan oleh Prof. Gordon Emmerson sebagai originator RT hendaknya menjadi satu pertanyaan yang kita tanyakan kepada diri kita sebagai seorang ayah setiap harinya, yaitu: “What is it that you want to change today?” Atau dalam versi saya: “Apa satu hal yang ingin kita rubah hari ini untuk membantu kita menjalankan peran keayahan kita dengan lebih baik?”

Penulis:

Konselor & Professional di market place