4 Types of People in Conflict Dari Perspektif Resource Therapy

Dalam konflik relasi, seseorang sering tampak “menyerang”, “mengejar”, “menghindar”, atau “mengalah”. Dari perspektif Resource Therapy (RT), perilaku tersebut tidak langsung dipahami sebagai “kepribadian orangnya”, melainkan sebagai ekspresi dari Resource State tertentu—yang lebih umum disebut sebagai “Parts”—yang sedang mengambil alih kendali pada saat sistem pertahanan psikologis merasa terancam.

Dengan kata lain, “The Blamer”, “The Pursuer”, “The Withdrawer”, dan “The Appeaser” (akan dibahas lebih lanjut pada pokok tulisan di bawah nanti) dapat dipahami sebagai pola proteksi dari Bagian (Parts) dalam diri yang berusaha menjaga keselamatan emosional.

RT dikembangkan oleh Professor Gordon Emmerson, PhD, sebagai pendekatan berbasis Parts therapy yang semula berawal dari Ego State Therapy, tetapi memiliki sistem diagnosis dan intervensi yang lebih spesifik untuk menangani gangguan emosi, perilaku, dan konflik internal. RT sendiri berdiri sebagai Parts therapy yang dapat mengakses Parts dalam diri tanpa harus menggunakan pendekatan hipnosis formal (pada awal perkembangannya, pendekatan berbasis Parts therapy seperti Ego State Therapy masih harus dilakukan dengan melibatkan penggunaan hipnosis formal), dengan kategori diagnostik dan regimen terapi yang terstruktur.

Artikel ini membahas empat tipe konflik dalam relasi (relationship) dari data yang klien berikan saat proses asesmen, lalu membacanya melalui lensa RT, termasuk kemungkinan patologi dari setiap tipe. Istilah patologi di sini tidak dimaksudkan sebagai diagnosis klinis final, melainkan sebagai  kemungkinan kondisi Resource State yang perlu dieksplorasi dalam asesmen terapeutik.

 

 

Konflik Sebagai Aktivasi Resource State

Dalam RT, kesadaran dan kepribadian manusia dipadnag terdiri dari banyak Resource States. Setiap Resource State memiliki peran, emosi, memori, kebutuhan, dan cara bertindak. Pada kondisi normalnya, Resource States dapat berfungsi fleksibel sesuai konteks yang dihadapi. Namun pada kondisi tertentu, sebuah Resource State dapat menjadi terlalu dominan, terluka, tertolak, atau terkunci dalam strategi lama yang dulu adaptif namun sekarang bersifat maladaptif, dan berdampak merusak relasi.

Ketika konflik terjadi, sistem saraf membaca situasi sebagai ancaman. Ancaman itu bisa berupa rasa ditinggalkan, dipermalukan, dikontrol, disalahkan, gagal, atau perasaan tidak cukup penting. Pada titik itu, Resource State yang berhubungan dengan proteksi akan aktif. Dari luar, seseorang bisa tampak sedang marah, menekan, diam, atau mengalah. Dari dalam, ada Resource State yang sedang mencoba mencegah rasa sakit yang lebih dalam.

Empat tipe yang akan dibahas di artikel ini dapat dipahami sebagai empat strategi proteksi dalam relasi:

  1. The Blamer: menyerang untuk melindungi diri.
  2. The Pursuer: mengejar koneksi agar tidak kehilangan relasi.
  3. The Withdrawer: menarik diri agar tidak kewalahan.
  4. The Appeaser: mengorbankan diri agar koneksi tetap aman.

Keempatnya bukan label identitas permanen. Seseorang dapat memiliki lebih dari satu pola, tergantung konteks, pasangan, riwayat attachment, trauma, dan Resource State yang sedang aktif.

 

The Blamer: Resource State yang Menyerang Untuk Bertahan

The Blamer memiliki core move: mendorong distress keluar. Dalam data yang klien berikan, pola ini tampak melalui kritik, nada keras, menyerang, menaikkan suara, menunjuk kekurangan pasangan, merasa paling benar secara moral, dan berfokus pada kesalahan orang lain. Narasi internalnya adalah: “Jika aku membuatmu salah, aku aman” atau “Kamulah masalahnya.”

Dari perspektif RT, The Blamer bisa dipahami sebagai Resource State protektif yang bergerak dengan pola “fight“. Resource State ini mungkin muncul ketika individu merasa malu, tidak berdaya, salah, kehilangan kontrol, atau tidak kompeten. Alih-alih merasakan kerentanan tersebut, Resource State ini memindahkan fokus keluar: pasangan disalahkan, situasi diserang, dan konflik dinaikkan intensitasnya.

Dalam bahasa RT, bagian ini belum tentu “jahat” atau “narsistik”. Ia mungkin adalah Resource State yang belajar bahwa “menyerang” adalah cara tercepat untuk “tidak runtuh”. Bila dahulu seseorang sering dipermalukan, dikritik, atau dibuat tidak berdaya, maka Resource State yang agresif dapat berkembang sebagai penjaga harga diri. Masalahnya, strategi ini sering membuat pasangan merasa tidak aman, diserang, dan menjauh.

 

Dugaan Patologi The Blamer Dari Kacamata Resource Therapy

Kemungkinan patologi yang perlu diperiksa adalah adanya Vaded State (lebih jelasnya mengenai diagnosis kondisi patologi Resource State bisa ditemukan di artikel terdahulu yang membahas “Resource State Diagnosis” dengan klik di sini) yang membawa shame, humiliation, fear of inadequacy, atau powerless feeling.

Dalam RT, Vaded State adalah Resource State yang menyimpan emosi menyakitkan dan belum terselesaikan. Pada The Blamer, Resource State yang tampil menyerang bisa menjadi pelindung dari Vaded State yang tidak ingin merasakan rasa malu atau merasa “kecil”. Resource State yang melindungi Vaded State ini adalah yang dalam RT dikenal sebagai Retro State.

Retro State dalam RT berkaitan dengan bagian yang menjalankan perilaku problematik atau simtomatik. Bila setelah konflik orang tersebut menyesal, tetapi tetap mengulang pola yang sama, maka terapis dapat mengeksplorasi apakah ada Retro State yang melakukan attacking sebagai strategi proteksi.

Kemungkinan lain adalah Conflicted State, terutama jika ada Parts yang ingin dekat dan memperbaiki relasi, tetapi bagian lain merasa harus menyerang agar aman. Konflik internal ini dapat membuat seseorang tampak inkonsisten: setelah menyerang, ia ingin dimaafkan; setelah menuntut, ia merasa bersalah.

Dalam kerja klinis RT, fokusnya bukan hanya meminta klien “jangan marah”, tetapi menemukan Bagian mana yang marah, apa yang ia lindungi, kapan ia pertama kali belajar menyerang, dan Vaded State apa yang Bagian ini proteksi.

 

The Pursuer: Resource State yang Mengejar Koneksi

The Pursuer memiliki core move: bergerak menuju koneksi ketika merasa terancam. Polanya adalah mengejar untuk “terhubung kembali (reconnect)“. Dalam data yang klien berikan, perilakunya meliputi mengulang kekhawatiran, memaksa percakapan, menuntut reassurance, meningkat secara emosional, mengikuti pasangan ketika pasangan menarik diri, menaikkan urgensi, dan berkali-kali berkata “kita perlu bicara.”

Narasi internalnya adalah: “Jika aku mendorong lebih keras, kita akan terhubung kembali” atau “Jika aku tidak menjaga ini tetap hidup, aku akan kehilanganmu.” Di permukaan, pasangan mungkin melihatnya sebagai menekan, needy, tidak sabar, atau dramatis. Namun dari sudut RT, bagian ini kemungkinan besar membawa ketakutan attachment yang kuat.

The Pursuer biasanya aktif ketika sistem membaca jarak emosional sebagai ancaman kehilangan. Diamnya pasangan tidak dibaca sebagai “butuh waktu”, tetapi sebagai tanda ditinggalkan. Responsnya bukan “mundur (retreat)”, melainkan “kejar (chase)”. Ia mencari kedekatan, kepastian, validasi, dan bukti bahwa dirinya masih penting.

 

Dugaan Patologi The Pursuer Dari Kacamata Resource Therapy

Kemungkinan patologi utama adalah Vaded State yang membawa ketakutan diabaikan (fear of abandonment), ketakutan sendirian (fear of being alone), ketakutan untuk terputus hubungan (fear of disconnection), atau takut merasa tidak berarti (fear of not mattering). Bagian yang mengejar mungkin bukan sumber luka utama, melainkan Resource State yang berusaha mencegah Vaded State masuk ke pengalaman menyakitkan ditinggalkan.

Pada beberapa kasus, The Pursuer juga dapat melibatkan Retro State dalam bentuk perilaku mencari kepastian (reassurance seeking), perilaku memprotes (protest behavior), mengirim pesan teks berulang (repeated texting), menginterogasi (interrogatingi), atau memaksa diskusi walau pasangan sudah overwhelmed. Bila klien mengatakan, “Saya tahu itu membuat keadaan lebih buruk, tapi saya tidak bisa berhenti,” ini mengarah pada kemungkinan Retro State yang mengambil alih.

Kemungkinan Conflicted State juga cukup besar. Satu bagian ingin tenang dan memberi ruang, tetapi bagian lain panik dan mengejar. Klien bisa berkata: “Saya tahu saya seharusnya diam dulu, tapi saya merasa kalau saya diam, dia akan pergi.” Di sini konflik bukan sekadar konflik dengan pasangan, tetapi konflik antar Resource States.

Dalam RT, intervensi akan mengeksplorasi bagian yang takut kehilangan, bagian yang mengejar, dan bagian dewasa yang dapat belajar memberikan kepastian internal (internal reassurance). Tujuannya bukan mematikan kebutuhan koneksi, tetapi membantu Resource State yang panik agar tidak harus mengejar secara destruktif.

 

The Withdrawer: Resource State yang Menarik Diri Untuk Menghindari Overwhelm

The Withdrawer memiliki core move: menjauh dari distress. Polanya adalah “menghilang untuk merasa aman (disappear to stay safe)”. Perilaku yang tampak meliputi menutup diri secara emosional, diam, meninggalkan percakapan, menghindari konflik, mengecilkan masalah, mengalihkan perhatian ke ponsel, TV, atau pekerjaan, serta mengatakan “ini bukan masalah besar.”

Narasi internalnya adalah: “Jika aku disengage, ini akan tenang” atau “Jika aku tetap di sini, aku akan gagal atau kewalahan.” Pada pasangan, pola ini sering terasa seperti dingin, tidak peduli, menghindar, atau tidak bertanggung jawab. Namun dalam RT, The Withdrawer sering kali merupakan Resource State yang sedang mencegah luapan emosional berlebih (emotional flooding).

The Withdrawer tidak selalu tidak peduli. Sering kali ia justru sangat peka terhadap intensitas emosi, tetapi tidak memiliki kapasitas internal untuk tetap hadir ketika konflik meningkat. Ketika suara meninggi, tuntutan meningkat, atau pasangan menangis, Resource State ini membaca situasi sebagai ancaman gagal, salah, atau tenggelam.

 

Dugaan Patologi The Withdrawer Dari Kacamata Resource Therapy

Kemungkinan patologi yang umum adalah Vaded State dengan ketakutan kewalahan (fear of overwhelm), ketakutan merasa tidak layak (fear of inadequacy), ketakutan pada luapan emosi berlebih (fear of emotional flooding), dan takut gagal (fear of failure). Resource State yang menarik diri mungkin melindungi individu dari pengalaman lama ketika konflik terasa terlalu besar dan tidak ada jalan keluar.

Bila menarik diri (withdrawal) menjadi kebiasaan otomatis yang tidak dapat dikendalikan, misalnya perilaku mendiamkan (silent treatment), stonewalling, kabur, dissociation-like shutdown, atau menghilang selama berhari-hari, maka ada kemungkinan Retro State aktif menjalankan perilaku penghindaran. Perilaku ini mungkin dulu menyelamatkan, tetapi dalam relasi dewasa berpotensi merusak kepercayaan.

Ada juga kemungkinan Conflicted State bila bagian tertentu menolak atau membenci bagian lain yang emosional. Misalnya, klien berkata: “Saya benci bagian diri saya yang lemah dan emosional.” Dalam RT, penolakan terhadap Resource State lain dapat memperparah fragmentasi internal. The Withdrawer bisa menjadi bagian yang menjaga sistem tetap “rasional”, tetapi dengan menekan Resource State yang membutuhkan ekspresi emosional.

Intervensi RT tidak cukup hanya meminta The Withdrawer untuk “lebih terbuka”. Terapis perlu memahami apa yang akan terjadi secara internal jika ia tetap hadir. Apakah ia takut diserang? Takut salah? Takut hancur? Takut tidak punya jawaban? Pertanyaan-pertanyaan ini membantu menemukan Resource State yang sebenarnya sedang membutuhkan bantuan.

 

The Appeaser: Resource State yang Mengalah Demi Koneksi

The Appeaser memiliki core move: mengorbankan diri untuk mempertahankan harmoni. Polanya adalah “runtuh untuk menjaga hubungan (collapse to keep connection)”. Perilaku yang terlihat meliputi cepat mengalah, meminta maaf berlebihan, menekan kebutuhan, menghindari perbedaan pendapat, menenangkan orang lain, berkata ya ketika maksudnya tidak, dan mengakomodasi berlebih (over-accommodating).

Narasi internalnya adalah: “Jika kamu baik-baik saja, aku aman” atau “Jika aku membuatmu kesal, kamu akan pergi.” Pola ini sering tampak sebagai kebaikan, kesabaran, atau kedewasaan. Namun bila terjadi secara kompulsif, The Appeaser kehilangan batas diri. Ia tidak lagi memilih harmoni, melainkan merasa harus menjaga harmoni agar tidak ditolak.

Dalam RT, The Appeaser dapat dipahami sebagai Resource State dengan pola fawn. Bagian ini belajar bahwa keselamatan diperoleh dengan menyenangkan (pleasing), menyesuaikan, dan tidak menimbulkan masalah. Dalam konflik relasi, ia berusaha menurunkan ketegangan dengan menghilangkan dirinya sendiri.

 

Dugaan Patologi The Appeaser Dari Kacamata Resource Therapy

Kemungkinan patologi utama adalah Vaded State yang membawa ketakutan penolakan (fear of rejection), ketakutan diabaikan (fear of abandonment), ketakutan konflik (fear of conflict), dan rasa takut kehilangan rasa layak (loss of self-worth). Di balik sikap “tidak apa-apa”, sering ada Bagian yang sangat takut kehilangan koneksi. Bagian ini mungkin pernah mengalami penolakan, hukuman emosional, atau kehilangan kasih ketika mengekspresikan kebutuhan.

The Appeaser juga dapat melibatkan Retro State jika perilaku menyenangkan sesama (people-pleasing), meminta maaf berlebih (excessive apologizing), atau mengorbankan diri (self-sacrifice) terjadi otomatis dan berulang, bahkan ketika klien tahu itu merugikan dirinya. Contohnya: menyetujui hal yang tidak diinginkan, tetap diam saat dilukai, atau mengambil tanggung jawab atas emosi pasangan.

Kemungkinan Conflicted State juga sering muncul. Satu bagian ingin berkata tidak, bagian lain merasa berkata tidak itu berbahaya. Satu bagian marah karena kebutuhannya diabaikan, bagian lain takut jika marah maka relasi akan putus. Akibatnya, konflik eksternal terlihat kecil, tetapi konflik internal sangat besar.

Dalam RT, terapi akan membantu The Appeaser membedakan antara koneksi yang sehat dan koneksi yang dibeli dengan penghapusan diri. Bagian yang takut ditolak perlu mendapatkan pemulihan emosional, bukan hanya diberi nasihat untuk “lebih tegas”.

 

 

Dinamika Pasangan: Ketika Resource States Saling Memicu

Keempat pola ini sering berpasangan dalam siklus konflik. The Pursuer dapat memicu The Withdrawer. Semakin The Pursuer mengejar, semakin The Withdrawer mundur. Semakin The Withdrawer mundur, semakin The Pursuer panik. The Blamer dapat memicu The Appeaser, dan The Appeaser yang terus mengalah dapat menyimpan kemarahan tersembunyi. The Blamer juga dapat memicu The Withdrawer, sementara The Withdrawer yang diam dapat memicu The Blamer menjadi lebih keras.

Dari perspektif RT, konflik pasangan bukan hanya dua orang yang bermasalah, tetapi dua sistem Resource States yang saling mengaktifkan luka lama. Bagian yang muncul dalam konflik biasanya bukan bagian yang paling matang, melainkan bagian yang paling merasa terancam.

Karena itu, pertanyaan terapeutik yang berguna bukan hanya: “Siapa yang benar?” tetapi:

  • Resource State mana yang sedang muncul ke permukaan?
  • Apa ancaman yang dibaca oleh Resource State itu?
  • Emosi apa yang sedang dihindari?
  • Apakah ada Vaded State di bawah respons protektif?
  • Apakah perilaku ini dijalankan oleh Retro State?
  • Apakah ada Conflicted State antara kebutuhan dekat dan kebutuhan aman?

Pertanyaan-pertanyaan ini dapat menolong konselor dengan mengubah arah konseling dari menyalahkan perilaku menjadi memahami fungsi protektifnya, tanpa membenarkan dampak buruknya.

 

 

Konseling Dengan Resource Therapy

Dalam konseling berbasis RT, empat tipe ini dapat digunakan sebagai peta awal, bukan sebagai label tetap. Konselor dapat membantu klien mengenali pola konfliknya, lalu masuk lebih dalam ke Resource State yang aktif.

Untuk The Blamer, fokus awal adalah menurunkan serangan dan menemukan shame atau powerless feeling di baliknya. Untuk The Pursuer, fokusnya adalah menenangkan abandonment fear dan membangun internal reassurance. Untuk The Withdrawer, fokusnya adalah menciptakan rasa aman agar bagian yang overwhelmed tidak harus menghilang. Untuk The Appeaser, fokusnya adalah memulihkan self-worth dan membantu bagian yang takut ditolak agar dapat mempertahankan batas diri.

Secara klinis, penting membedakan antara memahami pola proteksi dan membenarkan kekerasan. Bila konflik melibatkan intimidasi, coercive control, kekerasan fisik, kekerasan seksual, ancaman, atau manipulasi berat, keselamatan harus menjadi prioritas. Perspektif RT dapat menjelaskan dinamika internal, tetapi tidak boleh dipakai untuk menormalisasi perilaku yang membahayakan.

 

 

Kesimpulan

Empat tipe konflik, yaitu The Blamer, The Pursuer, The Withdrawer, dan The Appeaser, dapat dibaca dalam Resource Therapy sebagai strategi self-protection dari Resource States yang merasa terancam. The Blamer menyerang untuk menghindari malu dan tidak berdaya. The Pursuer mengejar untuk mencegah kehilangan koneksi. The Withdrawer mundur untuk menghindari overwhelm. The Appeaser mengalah untuk mencegah penolakan.

Kemungkinan patologi pada masing-masing tipe dapat melibatkan Vaded State, Retro State, Conflicted State, atau dalam kasus tertentu: Dissonant State, tergantung pada struktur internal klien. Karena itu, asesmen RT perlu dilakukan secara individual. Satu perilaku yang sama dapat memiliki sumber Resource State yang berbeda pada orang yang berbeda.

Pendekatan RT membantu konselor melihat konflik bukan hanya sebagai masalah komunikasi, tetapi sebagai aktivasi bagian-bagian diri yang membawa sejarah, luka, kebutuhan, dan strategi bertahan. Dengan pemetaan yang tepat, konflik dapat menjadi pintu masuk untuk memahami Resource States yang membutuhkan resolusi, bukan sekadar medan pertarungan untuk menentukan siapa yang salah.

 

 

Referensi

Emmerson, G. (2006). Advanced skills and interventions in therapeutic counselling. Crown House Publishing.

Emmerson, G. (2012). Healthy parts happy self: 3 steps to like yourself. CreateSpace Independent Publishing Platform.

Emmerson, G. (2014a). Resource therapy primer. Gordon Emmerson.

Emmerson, G. (2014b). Resource therapy. Old Golden Point Press.

Emmerson, G. (2015). Learn resource therapy: Clinical Qualification Student Training Manual. Old Golden Point Press.

Penulis:

Marriage Wellness Coach & Assesor