Bagian (Parts) Dalam Diri Kita

Bayangkan Anda baru saja beraktivitas yang melelahkan sepanjang hari dan menutup hari dengan tidur pulas. Sebelum tidur Anda menetapkan niat untuk bangun pagi di esok hari, bersiap untuk kembali bekerja dan menyelesaikan sisa pekerjaan di hari yang baru saja dilalui ini.

Waktu berlalu dan pagi hari pun tiba, terdengar dering alarm dari samping tempat tidur yang membuat Anda reflek terbangun dan lantas mematikannya.

Dan disinilah Anda berada sekarang, dalam posisi berbaring yang masih terasa sedemikian nyamannya. Di satu sisi Anda tahu harus lekas bangkit dan bersiap bekerja, namun di sisi lain ada rasa lemas dan malas yang menahan Anda untuk bangkit, bagaimanapun juga rasa lelah dari sisa pekerjaan hari sebelumnya masih membayangi dan Anda merasa masih perlu beristirahat lebih lama.

Batin pun berkonflik, di satu sisi logika Anda tahu bahwa jika Anda meneruskan tidur maka Anda akan terlambat bangun dan beraktivitas, di sisi lain Anda juga tahu bahwa Anda masih perlu beristirahat.

Ilustrasi konflik internal di atas melambangkan fenomena dua Parts yang sedang memperjuangkan kepentingannya dalam diri kita. Satu Part yang menyadari pentingnya bangun dan bekerja tepat waktu ingin segera bangkit dan beraktivitas, namun ada Part lain yang tidak setuju karena merasa masih perlu beristirahat.

 

 

Parts & Ilustrasi Perusahaan

Bayangkan diri kita sebagai satu perusahaan yang terdiri dari berbagai divisi dengan tugas dan peruntukkannya masing-masing.

Bisa kita cermati bahwa meski disimbolkan oleh satu perusahaan sebagai wujud utuhnya, namun kinerja dari perusahaan ini sangatlah ditentukan oleh kinerja setiap divisi yang ada di dalamnya.

Kiranya ada dua hal yang membantu perusahaan ini untuk bisa menampilkan kinerja terbaiknya:

  1. Setiap divisi yang ada menjalankan tugasnya dengan baik, sesuai dengan fungsi dan penugasannya.
  2. Setiap divisi yang ada di dalam perusahaan itu berkomunikasi dengan baik dan saling menghargai satu sama lain.

Masalah bisa muncul di perusahaan tersebut jika divisi yang ada di dalamnya tidak menjalankan fungsinya dengan baik atau mereka saling berkonflik dan tidak menghargai satu sama lainnya.

Ilustrasi yang kita bahas di awal artikel ini menjadi perlambang Parts yang saling berkonflik dan tidak bisa menghargai satu sama lainnya. Terdapat dua Parts yang ingin menjalalankan tugasnya masing-masingyang dirasanya baiksecara bersamaan, yang menjadikan kita “terjepit” di tengah-tengah keaktifan kedua Parts tersebut.

Diibaratkan perusahaan, ada dua divisi yang sedang menjalankan tugasnya secara bersamaan namun tugas yang dijalankan dua divisi itu saling bertolak belakang dan saling mempengaruhi, yang menjadikan kinerja perusahaan jadi ikut terpengaruh secara negatif karenanya.

Menghubungkan ilustrasi divisi perusahaan dengan cara kerja Parts dalam diri kita, berikut adalah beberapa ilustrasi yang menggambarkan permasalahan dalam diri seseorang dan kondisi Parts yang melatarinya:

Ilustrasi Kondisi Parts Contoh Permasalahan
Divisi yang bermasalah Part yang mengalami luka atau trauma Reaksi emosi yang berdampak negatif
Divisi yang menjalankan tugas yang tidak sesuai keahliannya Part yang aktif di waktu dan tempat yang tidak sesuai dengan fungsinya Salah tingkah, tidak bisa menampilkan kinerja ideal yang seharusnya
Divisi yang berkonflik, tidak menghargai satu sama lain Parts yang saling berkonflik, ingin aktif bersamaan dalam satu waktu Rasa berkonflik, rasa “terjepit”, rasa gelisah seolah ada pertentangan batin

 

 

Parts dan Respon Perilaku

Dalam perspektif Parts-Therapy, sistem kesadaran diri kita terdiri dari Bagian-Bagian (Parts) yang memiliki fungsi dan peruntukkan spesifiknya masing-masing dalam diri kita.

Di balik segala kondisi fisik, perasaan, pemikiran dan perilaku yang kita tampilkan, selalu ada Parts spesifik yang aktif melatari kondisi fisik, perasaan, pemikiran dan perilaku itu. Jika Parts yang aktif adalah Parts yang sehat maka baik juga kondisi fisik, respon perasaan, pemikiran dan perilaku yang kita tampilkan.

Istilah yang saya kerap kali lekatkan pada keberadaan Parts adalah bahwa ia tidak ubahnya sebuah “mode pengoperasian” diri kita. Lain mode yang sedang dioperasikan dalam diri kita maka lain juga kondisi fisik, perasaan, pemikiran dan perilaku yang kita tampilkan karenanya.

Sederhananya begini, coba ingat-ingat kembali ketika Anda sedang begitu fokus dan serius mengerjakan sesuatu, apa pun itu. Mode fokus dan serius yang Anda sedang alami ini melambangkan keberadaan dari Parts yang mengoperasikan kondisi atau kemampuan untuk fokus itu.

Di tengah suasana fokus itu sahabat karib Anda lalu menelepon, Anda pun meresponnya lalu bercanda-tawa dengannya di panggilan telepon itu dengan sedemikian meriahnya. Apakah kali ini Anda berada di mode fokus dan serius tadi? Tentu tidak, kali ini Anda akan berada di mode yang lebih cair, santai dan bahkan senang bercanda, mode santai ini pun melambangkan keberadaan Part dalam diri yang pada dasarnya sedang mengoperasikan kondisi santai tersebut.

Lain Parts yang aktif mengoperasikan diri kita maka lain juga aksi dan perilaku yang kita tampilkan berkat keaktifannya.

Dalam keseharian yang kita jalani terdapat dua kemungkinan dari aktifnya Parts sebagai mode pengoperasian diri kita:

 

Pertama, kita menyadari sebuah situasi perlu kita respon dengan mode atau sikap tertentu.

Contohnya seperti di ilustrasi tadi ketika kita sedang fokus lalu ada sahabat karib menelepon, maka kita pun lalu mengakses mode tersebut, yang menjadikan Part yang mewakili mode tersebut aktif dan membuat kita bisa berperilaku sesuai mode keaktifannya.

Yang satu ini agaknya cukup sering kita jalani dalam keseharian kita. Kita menyadari ada situasi yang perlu kita sikapi dengan mode tertentu dan kita pun berganti mode ke mode yang diperlukan itu agar bisa merespon situasi itu dengan baik. Semakin sesuai fungsi dari Parts atau mode yang kita operasikan ini dengan situasi yang mensyaratkannya dan semakin mudah kita mengakses mode itu maka semakin efektif juga kita bisa merespon situasi.

 

Kedua, Parts tertentu dalam diri kita aktif karena sebuah stimulus, kita lalu merespon/berperilaku sesuai Parts yang sedang aktif tersebut.

Yang satu ini merupakan kebalikan dari kemungkinan pertama. Kali ini yang terjadi justru adalah ada Parts spesifik yang aktif oleh stimulus spesifik, baik itu stimulus eksternal atau internal, dimana aktifnya Parts itu lalu mempengaruhi kondisi dan perilaku kita, menjadi mode pengoperasian kita sesuai karakter dari Parts yang sedang aktif tersebut.

Contoh dari hal ini bisa kita lihat dalam diri para pekerja yang sedang dalam mode fokus menyelesaikan pekerjaan, sedemikian fokusnya mereka sampai-sampai mereka tidak bercanda satu sama lain sedikit pun. Namun semua berubah ketika mereka mendengar bel istirahat, saat itu juga stimulus bel istirahat langsung mengubah Part yang aktif, dari yang semula Part “Fokus” ke Part “santai” dan “istirahat” sambil bercanda satu sama lain.

Permasalahan emosional yang terpicu oleh stimulus spesifik adalah contoh dari fenomena ini. Mereka yang mengalami masalah fobia pada objek atau situasi spesifik misalnya, seperti yang dialami oleh klien saya yang mengalami fobia pada kucing. Ketika sedang beraktivitas dan ia mendapati ada kucing di dekatnya maka saat itu juga Part apa pun yang sedang aktif akan berganti dengan Part yang merasa takut pada kucing dan ia pun kehilangan kendali dirinya. Dengan kata lain kucing menjadi stimulus yang mengaktifkan Part tertentu yang – sayangnya – menyimpan permasalahan pada kucing. Ketika Part itu muncul maka reaktif juga respon yang muncul atas kucing sebagai stimulus yang sedang berlangsung.

Sebagai manusia kita hidup dengan merespon stimulus, jika Parts atau mode yang aktif merespon stimulus adalah Parts yang sehat dan tepat maka baik juga respon kita atas stimulus tersebut, namun jika Parts yang aktif adalah Parts yang bermasalah maka bermasalah juga respon yang kita tampilkan karenanya.

Penulis:

Professional Life Coach & Clinical Hypnotherapist, Executive Director of Resource Therapy For Indonesia & Malaysia