Resource Therapy (RT) adalah salah satu modalitas terapi yang berakar pada konsep dan filosofi Parts-Therapy.
Dikatakan sebagai “salah satu” karena memang terdapat beberapa modalitas terapi lain yang sama-sama mengakar pada pemahaman akan Parts-Therapy dimana masing-masing teknik itu memiliki perspektifnya sendiri akan cara kerja Parts dalam diri kita, termasuk perspektif akan mekanisme penanganan yang dibutuhkan oleh setiap Parts.
Jika ada lebih dari satu, lantas yang mana yang paling benar? Tidak jarang pertanyaan ini muncul dalam diri para pembelajar. Saya pribadi akan menyatakan bahwa sulit untuk menjawab pertanyaan ini dengan menegaskan “yang mana yang paling benar”.
Pikiran adalah perkara yang tidak bisa dilihat dan diukur secara kasat mata. Berbagai penelitian dan penemuan yang ada dalam dunia Psikologi sampai saat ini pun dibuat untuk memahami mekanisme dari perkara yang tidak terllihat ini agar lebih terpetakan dan terprediksi cara kerjanya. Pemetaan ini juga yang kemudian melahirkan berbagai ilustrasi atas cara kerja pikiran di berbagai aliran psikologi yang ada.
Begitu juga dalam dunia Parts-Therapy, terdapat berbagai perspektif akan cara kerja Parts dalam diri kita, masing-masing dengan dasar teori dan pemikirannya sendiri. Alih-alih memperdebatkan “yang mana yang paling benar”, mari membuka diri untuk memahami berbagai ilustrasi yang ada, karena pada akhirnya semua itu bermuara pada satu tujuan akhir yang sama, yaitu sebagai alat bantu perubahan untuk membantu kita menciptakan kualitas hidup yang lebih baik.
Namun demikian sebagaimana juga sudah dijelaskan sebelumnya, setiap jenis Parts-Therapy memiliki perspektifnya masing-masing. Meski akan baik adanya pada akhirnya untuk memahami berbagai perspektif yang ada ini, tidak kalah pentingnya juga bagi kita ketika mendalaminya untuk tidak begitu saja mencampuradukkannya, melainkan memahami dulu perspektif yang ada satu-persatu, sebelum kemudian tiba di satu kesimpulan akhir yang lebih terintegrasi.
RT bagi saya menjadi salah satu teknik Parts-Therapy yang praktis untuk dipahami cara kerjanya. Memahami kerangka berpikir akan cara kerja Parts dalam RT bagi saya memberikan satu kemudahan tersendiri ketika kemudian meninjau berbagai perspektif yang ada di berbagai teknik Parts-Therapy lainnya.
Satu hal yang tidak kalah pentingnya dan menjadikan RT istimewa bagi saya pribadi adalah adanya prosedur penanganan yang sangat jelas dan sistematis dari awal sampai akhir setiap prosesnya—yang terangkum dalam kerangka RT Process dan RT Actions—yang memudahkan praktisinya untuk bisa memfasilitasi penanganan yang jelas pada Parts yang sedang bermasalah dengan kualitas yang konsisten dari hulu ke hilir.
Tidak berlebihan kiranya jika saya mengatakan bahwa RT menjadi satu teknik yang memegang porsi besar dalam proses terapi, konseling dan coaching yang saya dan tim saya fasilitasi di layanan profesional yang kami sediakan di institusi yang kami operasikan.
Resource Personality Theory
Meski berpijak pada satu hakikat pemahaman yang sama bahwa sistem kesadaran individu terdiri dari berbagai Parts yang memiliki fungsi dan peruntukkan spesifiknya masing-masing, setiap Parts-Therapy memiliki perspektifnya masing-masing atas keberadaan dan cara kerja Parts.
Dalam RT, pemahaman akan keberadaan dan cara kerja Parts ini terangkum dalam satu bahasan yang disebut sebagai Resource Personality Theory (RPT), pemahaman inilah yang hendaknya kita pahami terlebih dahulu sebagai pijakan untuk nantinya memahami RT lebih jauh.
RPT dikembangkan dengan didasari sebuah pemahaman bahwa otak berkembang dan terkondisikan melalui pengulangan. Dalam masa tumbuh kembang kita sejak kecil, kita belajar untuk merespon stimulus dengan mekanisme tertentu, dimana proses belajar dan penguasaan keahlian (coping skill) ini kelak membentuk “pola” dalam otak kita.
Secara fisiologis, proses pembelajaran, penguasaan keahlian dan pembentukan pola ini menciptakan jalinan syaraf yang terbentuk dari akson dan dendrit serta tembakan sinaps yang berlangsung dalam otak yang terbentuk melalui pengulangan sampai menjadi sebuah pola yang lebih spesifik. Bersamaan dengan terbentuknya pola dan jaringan syaraf ini secara psikologis terbentuk juga keberadaan Parts sebagai mode yang mewakili pola yang terbentuk untuk merespon stimulus ini.
Ketika kita perlu melakukan suatu hal secara spesifik yang sudah kita kuasai atau biasa lakukan maka kita otomatis mengakses pola yang sudah terbentuk itu, yang menjadikan kita juga mengakses keberadaan Parts yang mewakili pola tersebut. Karena keberadaan dari Parts atau pola itu menjadi sebuah sumber daya (resource) yang bisa kita gunakan maka RPT menyebut keberadaan Parts ini sebagai Resource State.
Perlu kita pahami juga bahwa pembentukan pola dalam otak ini mengadopsi pemahaman atas hal yang kita rasa bisa membawa manfaat (pleasure) atau menghindarkan kita dari potensi ancaman atau bahaya (pain), sehingga keberadaan dari Resource State dalam diri kita pun turut terbentuk dengan mengacu pada mekanisme itu.
Mari menggunakan contoh sederhana untuk memahaminya. Sebut saja seorang anak sedang melihat orang tuanya bekerja membersihkan rumah, sisi dalam diri si anak yang memerlukan perhatian (unmet need) kemudian berinisiatif membantu orang tuanya.
Tindakannya ini ternyata membuahkan pujian dan perhatian dari orang tuanya yang membuatnya merasa senang (pleasure), mekanisme ini kelak membentuk sebuah kesimpulan baginya bahwa tindakannya ini – yaitu membantu – adalah hal baik untuk dilakukan dan membantunya mendapatkan kesenangan yang dibutuhkannya.
Ketika mekanisme ini terjadi berulang maka terbentuk jugalah pola yang mewakili mekanisme “pemenuhan kebutuhan emosi” dalam dirinya, yang juga mewakili pembentukan Resource State yang nantinya menjalankan fungsi ini di kemudian hari, yaitu membantu sesama, karena Resource State ini sudah belajar bahwa ada kesenangan atau manfaat yang bisa diperolehnya dari perilaku itu.
Akan lain ceritanya jika ketika si anak ini berinisiatif membantu ia justru dimarahi, yang membuatnya merasakan ketidaknyamanan (pain), proses ini membentuk keberadaan Resource State yang justru bisa jadi akan menghindari perilaku membantu, karena Resource State ini merasa ada potensi ancaman yang akan menimpanya ketika ia membantu.
Resource State terbentuk dengan mengacu pada prinsip melakukan hal yang bisa memberikan manfaat (pleasure) atau menghindarkan kita dari ketidaknyamanan (pain). Ketika seorang anak berada di lingkungan yang penuh dengan ancaman dan dalam melalui ancaman itu ia belajar bahwa dengan menarik diri ia bisa terhindar dari ancaman maka akan terbentuk juga Resource State yang bertugas menjalankan perilaku ini, yaitu perilaku “menarik diri ketika ada potensi ancaman”, karena menurut Resource State ini itulah tindakan terbaik untuk dilakukan untuk menghindari potensi bahaya.
Namun akan lain lagi ceritanya jika dalam melalui ancaman ini si anak ini justru belajar bersikap keras dan ia mendapati sikap keras ini justru menyelamatkannya dari potensi ancaman, akan terbentuk juga Resource State yang menjalankan perilaku ini, yaitu “bersikap keras ketika ada potensi ancaman”, lagi-lagi karena menurut Resource State ini itulah tindakan yang baik untuk dilakukan untuk menghindari potensi bahaya.
Dikatakan sebagai Resource (sumber daya), karena apa pun respon yang ditampilkan Resource State, itulah respon yang menurut Resource State itu merupakan respon terbaik untuk mendapatkan manfaat atau menghindarkan kita dari ancaman.
Setiap orang akan memiliki jumlah, jenis dan karakter Resource State yang berbeda dan unik, yang kelak melahirkan perbedaan karakter dan kepribadian antar individu karenanya.
Level Keaktifan Resource State: Conscious State
Kita sudah belajar memahami bahwa di balik segala kondisi, pemikiran, perasaan dan perilaku kita selalu ada Parts atau Resource State yang aktif melatari kondisi, pemikiran, perasaan dan perilaku itu, kita juga sudah memahami bahwa Resource State pasti menjalankan apa yang dirasanya baik untuk hidup kita, lalu bagaimana bisa seseorang justru mengalami gejala permasalahan emosi, perilaku dan psikosomatis jika seharusnya setiap Resource State yang aktif ini menjalankan hal baik?
Pertanyaan ini akan membawa kita pada bahasan berikutnya yang mengajak kita memahami dinamika kondisi dari Resource State dan level kesadaran dimana mereka berada.
Dasar pemahaman pertama yang perlu kita pahami adalah bahwa hanya satu Resource State yang bisa aktif pada satu waktu menjalankan tugasnya sebagai mode pengoperasian diri kita.
Ketika satu Resource State sedang aktif sebagai mode pengoperasian diri kita maka RT mendefinisikan Resource State tersebut sedang berada dalam mode Conscius State.
Selama satu Resource State ini sedang aktif di Conscious State maka Resource State lain dalam diri akan berdiam di level kesadaran lain. Level kesadaran lain ini terdiri atas dua level.
Surfance State
Level kesadaran dimana Resource State lain yang sedang tidak aktif mengamati yang terjadi di luar diri kita. Meski hanya satu Resource State yang sedang aktif di Conscious State, para Resource State lain yang ada di Surface State tetap mengamati yang dilakukan Resource State yang aktif di Conscious State
Resource State yang berada di mode Surface State adalah Resource State yang sering digunakan, mereka adalah berbagai mode yang relatif sering kita gunakan dalam keseharian kita. Karena waktu pergantian mode ini cukup cepat dan sering sehingga ketika satu Resource State lain aktif menggantikan Resource State sebelumnya maka Resource State yang menjadi tidak aktif ini berdiam di Surface State, menunggu gilirannya untuk aktif kembali.
Karena mereka kerap kali muncul silih berganti dan mengamati kemunculan satu sama lain maka Resource State yang ada di Surface State bisa saling berbagi memori atas suatu pengalaman yang satu sama lain alami dalam mode Conscious State.
Dengan kata lain, satu Resource State bisa mengetahui dan juga menceritakan pengalaman yang dialami oleh Resource State lain yang sama-sama berada di Surface State.
Underlying State
Level kesadaran tempat para Resource State berdiam ketika mereka tidak sedang aktif tanpa berbagi memori dengan Resource State lain yang ada di Surface State.
Resource State di Underlying State mengamati dan menyadari yang terjadi di luar luar diri kita tapi Resource State di Surface State tidak menyadari keberadaan mereka, karena mereka berada di level yang lebih dalam dan tidak disadari. Istilah yang sering digunakan dalam Psikodinamika untuk menyebut level ini adalah “pikiran bawah sadar”.
Di kesempatan tertentu ada kalanya Resource State dari Underlying State ini aktif ke Conscious State, yaitu karena ada stimulus tertentu yang mengaktifkan mereka, atau bisa juga karena Resource State ini menyadari ada hal yang harus mereka sikapi di luar sana.
Resource State yang berada di Underlying State biasanya adalah Resource State yang terbentuk di masa kecil, yang juga jarang aktif ke Conscious State sehingga tidak dikenali oleh Resource State yang ada di Surface State. Oleh karena itu ketika Resource State yang berada di Underlying State ini tiba-tiba aktif ke Conscious State akan muncul sensasi “asing”. Ketika Resource State ini kembali ke Underlying State maka Resource State lain yang muncul setelahnya di Conscious State tidak bisa mengenali Resource State dari Underlying State itu, termasuk tidak bisa mengenali detail ingatan yang mereka bawa.

