Dinamika “Introject” Dalam Resource Therapy

Beranjak dari berbagai penjelasan seputar Resource State dan SEM (temukan bahasan perihal Sensory Experience Memory [SEM] dengan klik di sini), tibalah kita di satu pemahaman mendasar yang akan melengkapi semua pemahaman yang sudah kita bahas sebelumnya, yang juga menjelaskan bagaimana Resource State bisa kelak terbentuk menjadi Vaded State, yaitu pemahaman atas keberadaan dan cara kerja Introject.

Introject adalah perwujudan atau “kesan internal” atas apa pun objek yang kita alami di luar diri kita, bisa berupa orang, binatang, benda, atau apa pun itu di luar diri kita. Introject menjadi objek di luar diri yang kemudian “mewujud” menjadi sebuah ingatan dalam diri kita.

Dikatakan sebagai “mewujud” karena memang sebagai ingatan ada kesan atau wujud yang bisa kita ceritakan tentang objek yang kemudian menjadi ingatan itu.

Sederhananya begini, ingat-ingat kembali masa sekolah dulu, siapa teman yang menurut Anda sering bermain dengan Anda? Bayangkan sosok teman itu sekarang. Sudah membayangkannya? Nah, ingatan dan kesan tentang teman sekolah Anda itulah Introject atas dirinya.

Ilustrasi yang sering saya gunakan adalah ada dua dunia: (1) dunia di luar diri yang kita alami di luar diri kita, dan (2) dunia di dalam diri, yang berisikan rekaman ingatan dan kesan atas apa yang kita alami di dunia di luar diri kita tadi.

Dalam menjalani kehidupan ini ada dunia di luar yang kita alami dimana di dunia luar itu ada berbagai objek yang kita temui dan juga berinteraksi dengan kita. Hasil dari mengalami dan berinteraksi dengan berbagai objek dunia di luar diri itu kemudian kita “rekam” dalam diri kita, hasil rekaman itulah yang dimaksudkan sebagai Introject.

Setiap kali kita mengingat peristiwa masa lalu dan mendapati ada objek-objek dalam peristiwa itu dalam ingatan kita maka keberadaan dari objek-objek itu dikategorikan sebagai Introject dalam diri kita. Katakanlah Anda sedang mengingat masa kecil dan dalam ingatan masa kecil itu ada rumah lama tempat Anda biasa menghabiskan masa kecil dengan segala benda yang ada dalam rumah itu, dalam ingatan Anda itu juga ada lingkungan sekitar rumah itu dan bahkan ada teman-teman masa kecil Anda. Semua objek itu tadi: rumah, lingkungan rumah, teman, atau apa pun yang ada dalam rekaman ingatan Anda, itulah Introject. Intinya, kapan pun kita sekedar memikirkan sesuatu dalam pikiran kita atas objek di luar diri yang pernah kita temui, maka ingatan kita atas objek itu adalah Introject.

Lain intensitas pengalaman, lain juga pengaruh dari Introject atas diri kita. Selalu ada pengalaman tertentu dimana kita hanya berinteraksi sekedarnya dengan objek di luar diri kita, maka pengaruh dari Introject itu pun hanya sekedarnya bagi diri kita, hanya menjadi sebuah rekaman ingatan tanpa pengaruh yang signifikan.

Semakin intens pengalaman kita bersama objek di luar diri kita itu maka semakin besar juga pengaruh dari Introject itu atas diri kita. Ketika kita mengingat suatu objek di luar diri kita dan merasakan kesan yang kuat – yang sedemikian menggugah emosi dan sensasi dalam diri kita – hal itu menandakan kuatnya pengaruh dari rekaman Introject sosok itu.

Misalnya saja Anda membayangkan sosok yang Anda tidak sukai, ketika baru membayangkannya saja rasa tidak suka itu bisa muncul dan bahkan membuat Anda marah, maka sebesar itulah pengaruh Introject dari sosok itu pada diri Anda. Begitu juga ketika Anda mengingat suatu kejadian traumatis – tepatnya mengingat semua detail yang ada di kejadian itu – lalu merasakan emosi yang intens, maka sebesar itu jugalah pengaruh dari rekaman Introject semua objek dan kejadian itu atas diri Anda.

Introject juga bisa berpengaruh positif. Ketika kita mengingat suatu hal atau objek tertentu (sosok, tempat, benda, atau apa pun) dan kita lalu merasakan emosi serta sensasi yang menyenangkan maka tandanya rekaman Introject itu berpengaruh positif atas diri kita.

Ingat-ingatlah sosok yang Anda sayangi beserta semua kenangan indah bersama mereka sampai muncul emosi dan sensasi yang terasa positif dan menyenangkan dalam diri, jika Anda merasakannya maka itulah contoh dari pengaruh positif Introject itu atas diri Anda.

Lantas apa hubungan Introject ini dengan Resource State atau RT? Kenapa dikatakan pemahaman atas Introject menjelaskan bagaimana Resource State bisa kelak terbentuk menjadi Vaded State? Jawabannya adalah karena dalam posisinya sebagai sebuah “rekaman memori”, setiap Resource State memiliki rekaman Introject-nya masing-masing yang mempengaruhi kondisi setiap Resource State itu secara berbeda.

 

 

Introject, Vaded State dan Initial Sensitizing Event (ISE)

Begitulah, setiap Resource State memiliki memori spesifik masing-masing atas Introject masing-masing.

Introject adalah “rekaman” memori spesifik atas objek di luar diri kita yang kita rekam dari pengalaman spesifik yang kita lalui bersama objek itu. Namun tidak boleh kita lupakan bahwa di dalam setiap pengalaman yang kita lalui dalam hidup ini akan selalu ada Resource State spesifik yang aktif menjalani detail pengalaman itu, yang menjadikan pengalaman spesifik itubeserta segala objek spesifik yang ada di dalamnyaakan direkam oleh Resource State spesifik yang aktif di Conscius State di pengalaman itu, dan menjadi Introject spesifik juga bagi Resource State spesifik tersebut. Ada pun Resource State lain yang tidak mengalami pengalaman itukarena tidak sedang aktif di Conscious State ketika mengalami pengalaman itubelum tentu menyimpan kesan dan Introject yang sama atas objek spesifik yang dialami di pengalaman spesifik itu.

Ada satu ilustrasi yang bisa kita gunakan untuk memahami hal ini dengan lebih mudah. Bayangkan para Resource State dalam diri memiliki ruang-ruang kesadarannya masing-masing dimana di ruang kesadaran masing-masing itulah mereka “tinggal” bersama Introject yang pernah mereka rekam di sepanjang pengalaman hidup mereka.

Setiap kali Resource State spesifik tertentu sedang aktif di Conscious State sambil melalui pengalamannya bersama objek spesifik tertentu maka mereka merekam kesan objek itu spesifik dan membawanya menjadi Introject spesifik ke dalam ruang kesadaran mereka. Sementara Resource State lain yang tidak aktif di Conscious State di pengalaman itu tidak ikut merekam Introject spesifik itu dalam ruang kesadaran mereka. Kalau pun mereka juga merekam Introject itu, bisa jadi mereka merekam “kesan” yang berbeda atas Introject tersebut dalam ruang kesadarannya, karena lain juga detail pengalaman yang Resource State lain itu alami bersama objek di luar diri yang kelak menjadi Introject itu.

Ketika Resource State spesifik aktif di Conscious State, pengaruh dari Introject spesifik yang terekam bersama Resource State spesifik itu di ruang kesadarannya juga akan ikut aktif dan ikut mempengaruhi pemikiran, perasaan dan perilaku kita.

Mari menggunakan contoh praktis, sebut saja dalam diri seseorang ada Resource State “Bermain” yang ketika aktif di Conscious State bersama Ayah mengalami hal yang menyenangkan bermain bersama figur Ayah ini, maka kesan yang dibawa tentang sosok Ayah ini kemudian disimpan sebagai Introject “Ayah yang baik” dalam ruang kesadaran Resource State “Bermain” ini. Ketika Resource State “Bermain” ini aktif di Conscious State maka keberadaan Ayah menjadi sosok yang dimaknai menyenangkan dan positif, berada dekat Ayah menjadi sebuah hal yang baik adanya.

Namun di situasi yang berbeda orang ini juga pernah dimarahi oleh Ayah ketika belajar, sampai-sampai Resource State “Belajar” yang sedang aktif di Conscious State yang sedang belajar itu merasa takut dan sedih, lalu menjadi Vaded State. Maka kesan yang dibawa tentang sosok Ayah ini akan kemudian disimpan sebagai Introject “Ayah yang jahat” dalam ruang kesadaran Resource State yang terluka ini. Ketika Resource State yang terluka ini kelak aktif di Conscious State karena stimulus tertentu maka keberadaan Ayah menjadi sosok yang tidak disukainya, berada di dekat Ayah menjadi suatu hal yang tidak menyenangkan, muncul berbagai reaksi dan gejolak emosi yang menganggap keberadaan Ayah sebagai ancaman, karena begitulah kesan dari Introject Ayah bagi Vaded State di ruang kesadaran tempat ia tinggal.

Luka yang dialami Vaded State terasosiasi dengan Introject dan detail peristiwa bersama Introject yang membentuk keberadaannya, luka ini kelak bisa teraktifkan lagi (Vaded State jadi aktif di Conscious State) karena ada stimulus yang sejenis dengan yang dialaminya dulu.

Karena luka pada Resource State di contoh di atas tadi terbentuk oleh Introject Ayah ketika belajar maka bisa jadi ketika suatu hari orang ini dihadapkan dengan situasi belajar maka Vaded State ini pun aktif di Conscious State dengan membawa gejolak emosi yang menghambat dan memunculkan kesulitan belajar, karena dalam ruang kesadarannya ada kesan tidak menyenangkan yang disebabkan oleh Introject Ayah yang dianggapnya melukainya.

Jika Vaded State tidak mendapatkan resolusi sampai dewasa maka memori intelektual atas peristiwa bersama Ayah dan Introject Ayah ini bisa jadi memudar, hanya SEM dari peristiwa itu yang melekat bersama Vaded State dalam Underlying State, ketika suatu hari orang ini dihadapkan dengan aktivitas belajar maka Vaded State ini hanya aktif dalam bentuk reaksi dan gejolak emosi yang memunculkan kesulitan belajar yang tidak bisa dipahami oleh ia yang mengalaminya, ia hanya merasakan sensasi hambatan yang muncul tapi tidak bisa menjelaskan alasannya.

Intinya, satu Resource State akan menyimpan kesan yang spesifik atas diri seseorang di luar dirinya dalam bentuk Introject, dimana kesan ini bisa berbeda dengan Resource State lain yang memiliki pengalaman berbeda dengan orang itu ketika Resource State lain itu pernah aktif bersama sosok itu di Conscious State, yang menjadikan Resource State lain itu menyimpan Introject dengan kesan yang berbeda atas keberadaan orang yang sama tersebut.

Dalam penanganan masalah hubungan (relationship issue) terkadang ada orang-orang yang mengalami “konflik perasaan” atas hubungannya dengan pasangannya, seolah ada Bagian dalam dirinya yang ingin menyudahi hubungan dan ada Bagian dalam dirinya yang ingin terus melanjutkan. Hal ini karena Bagian dalam diri yang ingin menyudahi adalah Resource State yang menyimpan Introject spesifik negatif atas pasangannya yang dirasanya tidak menyenangkan sehingga ia pun merasa muak dan ingin menyudahi hubungan, sementara Bagian yang ingin melanjutkan adalah Resource State lain yang menyimpan Introject spesifik positif atas pasangannya, sehingga kedua Resource State ini lantas berkonflik “memperjuangkan” kepentingannya yang didasari oleh kesan yang berbeda dari Introject yang berbeda dalam ruang kesadaran Resource State masing-masing, yang padahal tertuju pada sosok yang sama di luar diri.

Di balik keberadaan Vaded State ada peristiwa yang untuk pertama kalinya menjadikan Resource State yang semula Normal State ini menjadi Vaded State, dimana dalam RT kita menyebutnya sebagai Initial Sensitizing Event (ISE), yaitu kejadian paling awal yang menyebabkan Resource State mengalami muatan emosi intens yang dirasa melukainya, yang kelak menyebabkannya berubah menjadi Vaded State.

ISE juga menjadi peristiwa yang menyebabkan Vaded State seolah “dihantui” oleh Introject negatif yang ada di peristiwa itu dalam ruang kesadarannya. Kejadian itu membuat Vaded State merekam Introject (sosok, benda, situasi, atau apa pun itu) sebagai keberadaan yang “mengancam”, dan menyimpan kesan negatif itu bersamanya di ruang kesadarannya di Underlying State sebagai Introject negatif.

Ketika Vaded State di kemudian waktu aktif di Conscious State, yang terjadi adalah ia sedang “dihantui” kembali oleh Introject negatif dari ISE yang melekat bersamanya di ruang kesadarannya, yang memunculkan gejolak emosi yang bersifat reaktif dan tidak berdaya.

Penulis:

Professional Life Coach & Clinical Hypnotherapist, Executive Director of Resource Therapy For Indonesia & Malaysia