Sebagaimana sudah dibahas dalam artikel yang membahas “Resource Personality Theory“, (silakan temukan artikelnya dengan klik di sini), keberadaan Resource State mewakili keberadaan ingatan dalam diri kita yang membentuk pola merespon. Kita belajar merespon kehidupan ini melalui pengalaman tumbuh kembang di masa lalu, merespon berbagai stimulus sebelum kita mengingat/merekam berbagai cara merespon itu yang menurut kita efektif membawa manfaat (pleasure), atau yang bisa menghindarkan kita dari ancaman (pain), menjadikannya pola dan juga mekanisme tersendiri yang bisa kita gunakan ulang di kemudian hari.
Ingatan atau rekaman atas pola merespon ini yang secara fisiologis sudah kita bahas sebelumnya membentuk jalinan syaraf di otak, yang juga secara psikologis membentuk keberadaan dari Resource State.
Membicarakan ingatan, Resource Therapy (RT) membagi jenis ingatan ini menjadi dua, yaitu memori intelektual (Intelectual Memory) dan memori pengalaman sensori (Sensory Experience Memory). Memahami keberadaan dan cara kerja Resource State dan memahami esensi dari penanganan dalam RT sangat mensyaratkan kita untuk memahami cara kerja dari memori ini, terutama Sensory Experience Memory (SEM), karena pemahaman atas SEM ini akan terus digunakan secara aktif dalam berbagai sesi terapi yang kita fasilitasi dengan menggunakan RT.
Memori intelektual adalah ingatan yang bisa kita akses atau ingat kembali secara sadar di Conscious State, sementara SEM adalah ingatan yang tidak bisa kita ingat secara sadar/secara intelektual karena detail ingatan itu berada di Underlying State yang sulit untuk kita akses begitu saja secara sadar.
SEM adalah kesan emosional yang kita rasakan atas suatu hal atau ingatan yang tersimpan di Underlying State dimana ketika ingatan ini teraktivasi di Conscious State karena stimulus tertentu di masa kini maka kita lantas merasakan kesan emosional itu kembali, seperti ketika emosi itu kita rasakan di peristiwa yang membentuk keberadaannya dulu.
Ketika SEM teraktivasi ia tidak selalu terhubung dengan memori intelektual, ia bisa teraktivasi oleh stimulus di luar diri kita begitu saja dan aktif di Conscious State dalam bentuk reaksi emosi yang bisa dengan jelas kita rasakan, namun kita tidak tahu mengapa reaksi itu muncul.
Ingat-ingatlah momen ketika Anda melihat suatu hal, mendengar suatu hal, mencium bebauan tertentu, atau mengecap rasa tertentu, yang ketika sistem penginderaan Anda melihat, mendengar, mencium atau mengecap informasi itu maka muncul perasaan spontan yang sulit untuk dijelaskan, itulah perlambang aktifnya SEM yang tidak terhubung dengan memori intelektual, Anda merasakan kesan emosionalnya tapi tidak tahu kenapa kesan emosional itu muncul.
Namun demikian ada kalanya juga SEM aktif dengan terhubung dengan memori intelektual, sehingga ketika SEM aktif memori kejadian yang membentuknya turut teraktifkan di Conscious State, kita merasakan kesan emosionalnya sambil turut mengingat kembali detail kejadiannya, fenomena ini dalam RT disebut sebagai Dual Awareness.
Ketika kecil, Ibu saya kerap memasak nasi goreng yang aroma dan rasanya khas sekali. Merupakan sebuah rutinitas tersendiri untuk saya menghabiskan waktu di Minggu pagi dengan memakan nasi goreng itu sambil menonton tayangan acara anak-anak di televisi.
Tahun demi tahun berlalu, seiring berubahnya ritme aktivitas kami menu nasi goreng itu tidak lagi mewarnai aktivitas saya dan saya sendiri sudah tidak terlalu mengingatnya.
Beralih ke masa kini. Suatu hari istri saya memasakkan nasi goreng, yang tanpa saya ketahui rupanya mengadaptasi resep lama nasi goreng dari Ibu saya. Awal melihat tampilan/warnanya saja, kesan emosional yang khas sudah mulai muncul dalam diri saya karena warnanya serupa dengan yang sering saya makan sewaktu kecil.
Seiring suapan pertama yang membawa rasa serta aroma yang khas – yang sama dengan yang saya makan sewaktu kecil – saat itulah kesan emosional dan ingatan masa kecil itu muncul kembali, masa-masa dimana saya duduk di depan televisi di Minggu pagi, memakan nasi goreng masakan ibu saya. Itulah contoh dari aktifnya SEM yang cukup terhubung dengan memori intelektual, kesan emosionalnya terasa dan ada detail dari memori kejadian yang bisa kita cukup ingat.
Di balik keberadaan Resource State ada SEM yang turut membentuk keberadaannya, ketika SEM spesifik teraktivasi maka Resource State yang terhubung dengan SEM itu pun turut aktif di Conscious State.
Begitu juga yang saya alami, stimulus nasi goreng kenangan masa kecil yang mengaktifkan SEM lama itu turut mengaktifkan Resource State masa kecil saya di Underlying State dengan berbagai kenangan masa kecil yang melatari pembentukan Resource State yang juga berusia kecil di Underlying State ini. Adanya muatan memori intelektual yang menyertai aktifnya SEM inilah yang membuat saya mengalami Dual Awareness yang membuat saya masih bisa mengingat detail peristiwanya. Tanpa adanya muatan memori intelektual pada SEM maka yang terjadi adalah saya hanya akan merasakan kesan emosional tertentu sebagai hasil dari kemunculan Resource State berusia kecil dari Underlying State namun sulit menjelaskan alasan di balik kesan emosional itu.
SEM & Resource State Pathology
Ketika seseorang mengalami peristiwa yang membuatnya terluka, takut atau terancam, maka akan ada dua jenis memori yang terbentuk dari peristiwa itu: (1) memori intelektual yang berisikan detail peristiwa yang dialami, dan (2) SEM yang berisikan respon emosi yang dirasakan ketika peristiwa itu sedang dialaminya.
Di momen ketika peristiwa itu baru saja terjadi, memori intelektual dan SEM masih terhubung sebagai satu kesatuan, yang menjadikan ketika ia menceritakan detail kejadian yang baru dialaminya (memori intelektual) maka reaksi emosi yang dirasakannya (SEM) ketika kejadian itu sedang terjadi masih akan dirasakannya seiring ia bercerita.
Seiring waktu berlalu, SEM dan memori intelektual mulai terpisah cara kerjanya, sering kali yang terjadi adalah memori intelektual mulai memudar seiring berjalannya waktu, maka kita pun mulai lupa dengan detail kejadian yang pernah kita alami dulu, namun tidak demikian halnya dengan SEM, ia tidak hilang namun berpindah ke Underlying State.
Ketika orang ini di masa depan mengalami kejadian yang memiliki nuansa sejenis dengan peristiwa yang dirasa pernah melukainya dulu, memori intelektualnya sudah tidak lagi mengingat bahwa ia pernah mengalami kejadian yang melukainya dulu, namun SEM yang terbentuk di peristiwa itu aktif secara spontan dari Underlying State ke Conscious State. Karena memori intelektual yang terhubung dengan peristiwa itu sudah memudar maka orang yang merasakan reaksi emosi ini tidak tahu apa yang melatari reaksi itu, ia hanya merasakan reaksi emosional yang tidak tertahankan dan tidak bisa dipahaminya.
Dari sudut pandang teori Resource State Pathology (silakan temukan bahasannya di artikel terdahulu dengan klik di sini), ketika seseorang mengalami kejadian yang melukai atau menyakitkan, maka kejadian itu membentuk keberadaan Vaded State dalam dirinya. Jika kita hubungkan hal ini dengan SEM, bisa kita dapati bahwa terbentuknya SEM negatif sebenarnya mewakili proses terbentuknya Vaded State di Underlying State.
Dalam beberapa kasus beberapa orang bisa saja membawa Vaded State yang masih membawa muatan memori intelektual di dalamnya, yang menjadikan ketika orang ini di masa depan mengalami kejadian yang memiliki nuansa sejenis dengan peristiwa yang pernah melukainya dulu maka Vaded State pun aktif di Conscious State dan muncullah reaksi emosi yang tak tertahankan, namun bedanya ia cukup bisa mengingat kejadian yang membuatnya terluka dulu, meski mungkin hanya samar. Dengan kata lain, ada Dual Awareness di balik kemunculan Vaded State ini.
Dalam praktik yang saya tekuni selama ini saya mendapati lebih banyak Vaded State terbentuk dalam diri seseorang di Underlying State dengan ingatan intelektual yang sudah memudar, yang menjadikan saat Vaded State ini aktif di Conscious State seseorang hanya merasakan reaksi emosional yang tidak terkendali namun tidak memahami kenapa reaksi emosional itu muncul, ia tidak bisa mengingat detail petistiwa yang dulu membuatnya terluka, hanya bisa merasakan reaksi emosinya, hal ini karena Vaded State yang aktif di Conscious State itu tidak berbagi memori dengan Resource State lain yang ada di Surface State.
SEM bisa membawa muatan emosi positif atau negatif. Bagaimana pun juga dalam setiap pengalaman yang kita alami yang membentuk keberadaan Resource State dalam diri kita selalu ada SEM yang menyertai pembentukan Resource State. Maka itulah sebelumnya sudah dijelaskan bahwa aktifnya SEM di Conscious State karena stimulus tertentu selalu mewakili aktifnya Resource State di Conscious State, bisa berupa Resource State yang membawa SEM positif dan menyenangkan, bisa juga Resource State yang membawa luka, yaitu Vaded State.
Terbentuknya SEM negatif yang membentuk keberadaan dari Vaded State bisa menyebabkan seseorang memasuki kondisi reaktif dan kehilangan kendali atas dirinya ketika Vaded State itu aktif di Conscious State di kemudian hari. Namun ada sebuah catatan penting sehubungan dengan pembentukan SEM dan Vaded State ini, yaitu meski seseorang mengalami peristiwa yang bernuansa melukai, yang membentuk SEM negatif dalam dirinya, hal ini tidak akan begitu saja menjadikan Resource State yang aktif di peristiwa itu langsung menjadi Vaded State, melainkan ia bisa kembali ke kondisi normal seperti semula.
Dengan kata lain, ada peluang untuk “menganulir” pembentukan Vaded State dalam diri seseorang selepas ia mengalami kejadian yang membentuk SEM negatif, yaitu jika setelah mengalami kejadian yang menyakitkannya seseorang bisa menceritakan apa yang dialami dan dirasakannya tentang kejadian itu dan mendapatkan dukungan mental-emosional dari lingkungannya yang membuatnya merasa dipahami dan merasa lebih baik karenanya, maka Vaded State yang terbentuk pun akan mendapatkan resolusinya dan kembali ke fungsi normalnya, tidak memasuki mode Vaded State, hal ini biasa juga disebut crisis intervention.
Pemahaman ini adalah kunci penting untuk nanti mengembalikan Vaded State ini ke kondisi normalnya melalui sesi RT, yaitu memberikan Vaded State kesempatan untuk menceritakan yang dialami dan juga yang dirasakannya lewat proses RT Action 3 – Bridging, memberinya ruang untuk menyuarakan yang ia rasakan, yang juga membuatnya merasa lebih punya kendali atas dirinya lewat proses RT Action 4 – Expression dan memberinya kebutuhan emosi yang diperlukannya melalui RT Action 7 – Relief, dimana semua ini akan kita pelajari di Bab 11, 16 dan 17 nanti.
Intinya adalah Vaded State sebagai salah satu Resource State Pathology yang menyebabkan gejala permasalahan dalam diri seseorang di masa kini terbentuk dari Resource State spesifik yang mengalami peristiwa yang membawa SEM negatif di masa lalu yang dirasa melukai Resource State itu dan luka itu tidak kunjung mendapatkan penyelesaian. Ketika Vaded State mendapatkan penyelesaian yang diperlukannya—yang menetralkan keberadaan SEM negatif dalam dirinya—maka ia pun bisa kembali ke fungsi normalnya, kembali menjadi Normal State.

