Vivify Specific, Teknik Berkomunikasi Dengan Resource State

Menggunakan ilustrasi supir bus yang kita bahas di artikel “Resource State Diagnosis” (silakan temukan bahasannya dengan klik di sini), kita akan memasuki bahasan kali ini, yang juga bermula dari sebuah ilustrasi.

Sudah kita pahami bahwa ilustrasi bus melambangkan diri kita dan betapa para supir yang duduk di bangku penumpang untuk nantinya bergantian mengemudikan bus adalah para Resource State dalam diri kita.

Berbagai ilustrasi yang kita bahas di artikel di atas tadi  tadi juga idealnya sudah menjelaskan berbagai kondisi permasalahan yang dialami Resource State dengan menggunakan contoh ilustrasi dinamika supir bus.

Karena permasalahan pada bus terjadi akibat adanya supir bus yang “tidak tepat” di bangku kemudi, maka bukankah bisa kita pahami bahwa penanganan pun seharusnya dilakukan pada supir bus yang memang mengalami permasalahan tersebut karena ialah sumber dari permasalahan pada jalannya bus?

Bayangkan yang terjadi adalah keluhan mengenai masalah bus ini diutarakan pada tim ahli yang diminta menangani permasalahan pada kinerja bus. Tim ahli ini pun lantas memulai penanganannya, tapi yang terjadi adalah tim ahli ini justru berkomunikasi dengan supir lain—yang bukan merupakan supir yang bermasalah, dan bahkan tidak tahu-menahu tentang masalah yang dialami si supir yang bermasalah itu, apa yang akan terjadi?

Ya, supir yang diajak berkomunikasi itu kemungkinan bisa saja menjawab pertanyaan yang diajukan tim ahli, tapi itu pun hanya sejauh yang bisa diketahuinya dari sudut pandangnya, jika ditanya lebih jauh seputar spesifikasi masalah di level yang lebih dalam ia pun tidak akan bisa menjawabnya, karena ia bukanlah supir yang sedang mengalami permasalahan yang sering mengambil alih kemudi itu.

Begitu juga kalau jika itu dinasihati, diberikan arahan-arahan agar bus bisa berjalan dengan lebih aman dan nyaman, ia memang akan mendengarkan nasihat yang diberikan tapi tetap saja ia kesulitan untuk menjalankannya karena supir yang bermasalah yang sebenarnya masih akan muncul dan terus merintangi jalannya bus.

Dalam kenyataannya ketika bus dijalankan kembali, meski si supir yang sudah dinasihati itu mencoba menjalankan bus dengan benar ia akan lagi-lagi bergelut dengan ketidakberdayaan sebagai akibat dari intervensi yang dilakukan si supir yang bermasalah yang sebenarnya. Ketika ia lagi-lagi dinasihati namun lagi-lagi mendapati ia tidak bisa menjalankan yang harus dijalankannya karena si supir bermasalah itu terus saja menjalankan hambatannya maka bisa jadi supir ini pun akan mulai merasa frustrasi sendiri karenanya.

Ilustrasi ini melambangkan situasi ketika klien datang menjalani penanganan namun penanganan yang diberikan tidaklah menjangkau Resource State yang mengalami permasalahan. Terapis berkomunikasi dengan Resource State “Pelapor” yang hanya bisa menceritakan sejauh yang ia ketahui tentang gejala masalah yang dialami klien, namun akan selalu ada batasan yang ia tidak bisa ceritakan, karena bukan ia Resource State sebenarnya yang mengalami permasalahan.

Pun demikian ketika klien mendapatkan arahan atau penanganan, hal ini dialami oleh Resource State “Pelapor” yang akan mengiyakan atau mencoba menjalankan yang diberikan padanya, namun tetap saja dalam praktinya Resource State yang mengalami Resource State Pathology akan merintangi upaya yang dijalankannya. Hal ini juga yang sering membuat mereka jadi frustrasi karena penanganan yang dijalaninya tidak kunjung memberikan dampak signifikan dari waktu ke waktu karena si Resource State yang bermasalah terus saja memunculkan gangguannya.

 

 

Mengakses Resource State Dengan RT Action 2 – Vivify Specific

“Tertanganinya Resource State yang bermasalah” adalah kunci penting pertama dalam RT dimana definisi lanjutan dari frasa “tertangani” ini adalah ketika Resource State yang bermasalah tersebut sudah kembali ke kondisi normalnya.

Namun demikian akan sulit adanya memastikan Resource State yang bermasalah tertangani dengan baik jika sejak awal saja Resource State itu tidak terakses, maka proses mengakses Resource State yang bermasalah inilah yang menjadi langkah paling awal untuk Resource Therapist kuasai.

RT Action 2 – Vivify Specific adalah teknik yang digunakan dalam RT Actions untuk mengakses Resource State spesifik yang kita ingin akses agar kita bisa berkomunikasi dengan Resource State tersebut.

Penjelasan sederhana dari RT Action 2 – Vivify Specific adalah ia merupakan proses menghadirkan SEM spesifik—yang terasosiasi dengan Resource State spesifik—agar Resource State yang terasosiasi dengan SEM itu aktif di Conscious State.

Catatan: silakan temukan bahasan soal “Sensory Experience Memory” (SEM) yang sedang dibahas ini dengan klik di sini.

Secara resmi, RT Action 2 – Vivify Specific dilakukan dengan mengajak klien “mengalami kembali” sebuah situasi spesifik yang memunculkan SEM yang terhubung dengan Resource State yang akan diakses, sampai klien benar-benar terasosiasi dengan SEM itu—yang menjadi tanda Resource State sudah aktif di Conscious State—lalu barulah kita menujukan proses komunikasi pada Resource State tersebut dan terus menjaga agar Resource State itu terus aktif di Conscious State secara stabil.

Terkait penjelasan di paragraf di atas, ada dua hal penting yang perlu kita pahami terlebih dahulu sampai sejauh ini:

Definisi “mengalami kembali” di paragraf di atas pada umumnya dalam bentuk “mengalami kembali secara internal”, yaitu klien diajak membayangkan atau mengingat hal yang bisa memunculkan kembali SEM yang terhubung dengan Resource State.

Ketika klien mengalami masalah “takut tampil dan melakukan presentasi di depan umum” misalnya (yang menandakan adanya Vaded State), maka RT Action 2 – Vivify Specific untuk mengakses Vaded State yang melatari rasa takut tersebut dilakukan dengan memandu klien mengingat atau membayangkan momen ketika ia tampil melakukan presentasi dan merasa takut di situasi itu, lalu memandu klien menghayati pengalaman itu sampai ia benar-benar mengalami kembali rasa takut itu sejelas mungkin dimana hal ini menandakan aktifnya SEM, dan aktifnya Vaded Stated di Conscious State, barulah kita kemudian menujukan dan menjaga komunikasi dengan Vaded State.

Dalam praktiknya bisa saja SEM ini diaktifkan lewat stimulus eksternal, yaitu menghadirkan objek atau situasi yang bisa memicu aktifnya SEM dan Resource State yang kita tuju. Misalnya saja bagi yang mengalami rasa takut berlebih pada kucing, hal ini dilakukan dengan menghadirkan kucing sungguhan di hadapan klien sampai keberadaan kucing ini memicu aktifnya SEM rasa takut, yang juga mengaktifkan keberadaan Vaded State di Conscious State, disambung dengan kita menujukan proses komunikasi pada Vaded State itu dan menjaga kestabilan komunikasi dengannya.

Dikatakan “secara resmi” di atas tadi adalah karena dalam praktiknya SEM tidak harus selalu diakses melalui proses imajinasi atau menghadirkan stimulus secara nyata.

SEM terhubung dengan “atensi”, dimana meningkatnya atensi pada suatu hal menjadi satu proses yang mengaktifkan SEM dan memancing keaktifan Resource State yang terhubung dengan SEM itu di Conscious State.

Proses “mengalami kembali” yang sudah kita bahas sebelumnya pada dasarnya ditujukan untuk meningkatkan atensi sebagaimana sekarang ini sedang kita bahas, namun dalam praktiknya perlu kita sadari juga bahwa aktifnya SEM tidak selalu terjadi karena adanya imajinasi atau stimulus secara nyata, melainkan bisa juga dialami melalui “dialog atentif pada topik tertentu”.

Ya, ketika membicarakan topik tertentu dan kita benar-benar merasakan atensi kita tertuju pada hal itu sampai ada sensasi yang membuat kita benar-benar “menjiwai” topik itu maka saat itu juga SEM yang berhubungan dengan topik itu teraktivasi, begitu juga Resource State yang terhubung dengan topik itu akan aktif, dari sini proses komunikasi dengan Resource State ini bisa kita jalin. Hal ini yang akan turut menjadi topik latihan dalam sesi praktik RT di kelas RT Foundation Level, sementara itu ragam cara lain mengakses SEM untuk berkomunikasi dengan Resource State dibahas di kelas RT Clinical Qualification (di kurikulum pembelajaran Resource Therapy Indonesia, terdapat total lima strategi berkomunikasi dengan Resource State).

Penulis:

Professional Life Coach & Clinical Hypnotherapist, Executive Director of Resource Therapy For Indonesia & Malaysia